<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926</id><updated>2011-08-01T17:10:51.734-07:00</updated><title type='text'>Kajian Linguistik dan Budaya</title><subtitle type='html'>Bahasa adalah Cerminan Budaya Penuturnya.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-5506835931359589436</id><published>2009-07-15T18:54:00.000-07:00</published><updated>2009-07-15T18:56:38.981-07:00</updated><title type='text'>Bahasa</title><content type='html'>VARIASI FONOLOGIS DAN MORFOLOGIS BAHASA JAWA&lt;br /&gt;  DI KABUPATEN PATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahdi Riyono  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABSTRCT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The coastal dialect of Javanese, especially, in the eastern part of northern coastal of Central Java, is interesting to study since there are some dialectal variations, particularly in the phonological levels. Pati Regency is a region which lies on the eastern part of northern coastal of Central Java has specially characteristics in the Javanese spoken by the Pati community. phonological variations include [i] and [I],  [I] and [], [u] and [], [a] and [], [r] sounds, and nasal [ŋ]. In addition, there are morphological variations in the use of certain words in Pati. The differences shows that there variations in the Javanese language. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Key words: Phonological variations- Javanese-social variables.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-harinya, masyarakat di Kabupaten Pati masih mempergunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi bersama-sama dengan bahasa Indonesia. Bahasa Jawa di Kabupaten Pati, untuk selanjutnya disingkat dengan BJKP,  di samping digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari, dipakai pula untuk mendukung kebudayaan penuturnya.&lt;br /&gt;  Pada kenyataannya, Kabupaten  Pati adalah daerah yang jauh dari pusat kebudayaan Jawa Solo dan Yogyakarta, terletak di Pantai Utara bagian Timur, sehingga dengan sendirinya, masyarakat Pati memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri baik dalam budaya maupun dalam berbahasa berbeda dari pusat kebudayaan, Solo dan Yogyakarta. Mengingat letak dan keadaan antara daerah di pusat kota dan pedesaan, hal itu memungkinkan terjadi variasi kebahasaan.  Secara sosiologis, daerah di pusat kota lebih terbuka menerima pengaruh pusat budaya dibandingkan daerah pedesaan. Hal ini terlihat dari banyaknya fenomena kebahasaan di daerah pusat kota yang menunjukkan kesamaan dengan bahasa Jawa baku dan interferensi bahasa Indonesia. Dalam penelitian ini ditetapkan tujuan sebagai berikut; (1) bagaimanakah variasi fonologis pemakaian bahasa Jawa di Kabupaten Pati? ; (2) bagaiamanakah  variasi morfologis pemakaian bahasa Jawa di Kabupaten Pati?. &lt;br /&gt;B. Landasan Teori &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trudgill (1974) mengemukakan bahwa perbedaan internal suatu masyarakart tercermin dalam bahasanya. Trudgill dalam penelitiannya mengkaji kemungkinan adanya korelasi langsung antara kelas sosial penutur dengan penggunaan variabel /-s/ dalam bahasa Inggris Norwegia sebagai penanda verba simple present tense untuk orang ketiga tunggal. Penelitian tersebut berkaitan dengan penelitian Wardaugh (1986:22) yang mengkaitkan variasi bahasa dengan seperangkat kaidah linguistik atau pola-pola tutur manusia di samping kajian yang dikaitkan pula dengan faktor luar bahasa. &lt;br /&gt; Kajian variasi bahasa yang paling awal dilakukan oleh Fischer (1958) mengenai variabel [ŋ] dan [n] dalam bahasa Inggris Norwegia. Variabel [ŋ] digunakan oleh kelompok sosial tingkat atas dalam kata singing, dan variabel [n] digunakan oleh kelompok sosial tingkat bawah pada kata singin. Kajian tersebut menunjukkan bahwa kelompok sosial tingkat atas mengucapkan singing, shooting, dan fishing, sedangkan kelompok sosial tingkat bawah mengucapkan singin, shootin, dan fishin. Labov membuktikan realitas tersebut dengan penelitian di New York mengenai variabel /r/ pada kata-kata semacam car dan guard yang dinilai tinggi. Ucapan dengan /r/ disosialisasikan dengan kelas menengah atas meskipun anggota-anggota kelas tersebut tidak selalu menggunakannya pada setiap kesempatan (Labov, 1994: 343; Wardaugh, 1986: 157-163).&lt;br /&gt; Holmes (1992:186) mengemukakan bahwa faktor sosial yang berpengaruh terhadap wujud pemakaian bahasa adalah usia penutur. Penelitian dialek sosial telah memberikan banyak informasi tentang pola ucapan dan tata bahasa yang digunakan oleh kelompok umur yang berbeda-beda. Kebanyakan peneliti dialek sosial telah menemukan bahwa anak-anak remaja memakai bentuk-bentuk vernacular dengan frekuensi yang tertinggi terutama jika bentuk-bentuk tersebut dianggap sebagai bentuk tidak baku. Bentuk-bentuk itu merupakan pemarkah solidaritas.&lt;br /&gt; Para anggota gang kota New York, sebagai contoh, sering melesapkan bentuk –ed yang menandai kala lampau pada akhir kata daripada orang dewasa yang berasal dari kelompok sosial yang sama. Mereka sering memakai miss daripada missed  (dalam ujaran seperti he miss the bus yesterday) dan pass pada passed (dalam ujaran it pass me). Mereka juga lebih banyak menggunakan negasi rangkap daripada orang dewasa yang berasal dari kelas sosial yang sama (Holmes, 2001: 169-170). &lt;br /&gt; Contoh lain yang memperlihatkan korelasi antara umur penutur dengan pemakaian bahasa adalah penelitian Labov mengenai perubahan bunyi bahasa. Di dalam penelitiannya mengenai motivasi sosial perubahan bunyi bahasa di Martha’s Vineyard, yaitu sentralisasi bunyi pertama dalam diftong /ay/ dan /aw/,  Labov (1977: 21-22, 36) mengemukakan bahwa sentralisasi tersebut tampak menunjukkan peningkatan yang teratur sesuai dengan tingkat umur yang mencapai puncaknya pada kelompok umur 31 sampai 45 tahun.  Lebih lanjut dikemukakannya bahwa peningkatan tersebut merupakan tanggapan kelompok umur itu terhadap tantangan akan status asli mereka sebagai “Vineyarder”. Makna langsung ciri fonetis yang dimaksudkan adalah bahwa ciri tersebut menandai bahwa penuturnya adalah penduduk Martha’s Vineyard (Sunarso, 1997:84). Kajian tentang dialek sosial tersebut di atas berhubungan dengan bidang dialektologi.&lt;br /&gt; Perubahan bahasa dapat disebabkan oleh faktor intralingusitik, yaitu faktor bahasa itu sendiri, dan dapat pula disebabkan oleh faktor ekstralinguistik, seperti faktor geografis, budaya, aktivitas ekonomi, politik, mobilitas sosial, kelas sosial, sifat masyarakat pendukungnya, persaingan prestise, migrasi, dan kontak bahasa. Sebagaimana dinyatakan Wijana (1996:7) masyarakat selalu bersifat heterogen dan bahasa yang digunakan selalu menunjukkan berbagai variasi internal sebagai akibat keberagaman latar belakang sosial budaya penuturnya (Wardhaugh, 1986; Kaswanti Purwo, 1990: 16).&lt;br /&gt;Tingkat tutur merupakan contoh yang sangat jelas dari hubungan antara bahasa dan pemakaian bahasa dengan faktor-faktor sosial dan situasional. Lewat tingkat tutur inilah penutur menyatakan rasa kesopanannya terhadap lawan tutur. Tingkat tutur dalam bahasa Jawa merupakan sebuah sistem untuk menunjukkan 1) derajat formalitas, dan 2) derajat hormat yang dirasakan oleh penutur (O1)  dan mitra tutur (O2).  Menurut Poedjosoedarmo dkk (1979: 8-9)   tingkat tutur adalah suatu sistem kode penyampaian rasa kesopanan yang di dalamnya terdapat unsur kosa kata tertentu, aturan sintaksis tertentu, aturan morfologis tertentu dan aturan fonologis tertentu, sedangkan Sudaryanto (1994: 98) menyebutnya dengan istilah ungguh-ungguhing basa.&lt;br /&gt;C. Cara Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Selanjutnya, Pengambilan data dilakukan dengan metode simak yaitu,  menyimak penggunaan bahasa dengan menggunakan instrumen daftar tanyaan. Penyimakan dilakukan dengan merekam semua jawaban dan keterangan dari responden. Kemudian setelah itu, dilakukan pencatatan dengan penulisan fonetis terhadap jawaban atau semua keterangan responden. Selanjutnya, dilakukan analisis dengan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu, dan metode refleksif-instropeksi. Adapun hasil analisis disajikan dengan metode formal dan informal. Data dijaring di tiga desa di wilayah tiga kecamatan yang mewakili daerah masing-masing wilayah pusat kota, pegunungan, dan pantai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Deskripsi  Variasi  Pemakaian Bahasa Jawa di Kabupaten Pati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  D.1 Variasi Fonologis BJKP&lt;br /&gt; Variasi fonologis adalah variasi pemakaian bunyi yang bersifat fonetis dan tidak membedakan makna. Variasi tersebut terbentuk karena penutur berasal dari kelompok sosial yang berbeda dan faktor keadaan alam, yaitu letak wilayah tempat tinggal penutur.&lt;br /&gt; Variasi fonologis dalam pemakaian BJKP juga dipengaruhi oleh beberapa faktor tersebut. Berikut ini akan diketengahkan variasi fonologis yang terjadi pada Titik Pengamatan (TP) 1, 2 dan 3. Variasi fonologis ini terjadi pada variasi fonem vokal dan konsonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2.1 Variasi Fonem Vokal&lt;br /&gt; (1) Variasi yang terjadi di daerah perkotaan dan Pedesaan&lt;br /&gt; a.  Variasi [i] dan [I] &lt;br /&gt;  Variasi bunyi [i] dan [I] yang terjadi di daerah perkotaan (TP-1) dapat ditunjukkan melalui data berikut ini;&lt;br /&gt;(1)  [prih] ~  [prIh] ’pedih’ (364).&lt;br /&gt;(2) [putih] ~ [putIh] ‘putih’ (206)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;b. Variasi [I] dan []&lt;br /&gt;(1) [putIh] ~ [puth] ‘putih’ (206).&lt;br /&gt;(2) [gajIh] ~ [gajh] ’lemak’ (38).&lt;br /&gt;(3) [gtIh] ~ [gth]’ darah’ (11).&lt;br /&gt;(4)  [winIh] ~ [winh] ‘benih’ (255).&lt;br /&gt;(5) [malIh] ~ [malh] ‘berubah’ (294).&lt;br /&gt;(6) [ŋalIh]~ [ŋlh] ‘ berubah’ (294).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;(2) Variasi yang terjadi di daerah perkotaan dan pedesaan&lt;br /&gt; a.  Variasi [U] dan []&lt;br /&gt; Variasi bunyi [U] dan [] hanya terdapat dalam satu kata, yaitu :&lt;br /&gt;  (1) [ŋuyUh] ~ [ŋuyh] ‘kencing (305).  &lt;br /&gt;4.2.2 Variasi Fonem Konsonan &lt;br /&gt; (1) Variasi Bunyi [r]&lt;br /&gt; Pemakaian variasi bunyi [r] dalam BJKP tidak menimbulkan perubahan bentuk dan makna pada kata. pemakaian tersebut hanya menunjukkan tingkat penguasaaan penutur terhadap bentuk kata yang sesuai dengan BJB. Variasi bunyi [r] ditemukan pada semua TP, namun hanya pada satu data, yaitu penambahan bunyi [r] diantara konsonan dan vokal pada suku tertutup.&lt;br /&gt;(1) [sandal]~[srandal] ‘alas kaki’ TP 1,2,3. &lt;br /&gt;(2) Variasi Bunyi [Nasal]&lt;br /&gt; Variasi bunyi nasal yang diketemukan dalam data pemakaian BJKP adalah penambahan bunyi nasal [ŋ] dan penggantian bunyi [m] dengan bunyi [ŋ]. Untuk penambahan bunyi [ŋ] terdapat TP-1 dan TP-2, sedangkan untuk yang mengganti bunyi [m] menjadi bunyi [ŋ] terdapat pada TP-1,2,3. Berikut ini contoh dari data:&lt;br /&gt; (1) [ŋambu] ~ [ŋambUŋ] ‘mencium (bau)’ (333) TP-1,2,3.&lt;br /&gt; (2) [sumsum] ~ [suŋsum] ‘isi tulang’ (21). TP-1,2.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2 Variasi Morfologis BJKP&lt;br /&gt; 4.2.1 Kekhasan Afiksasi&lt;br /&gt; Gejala kekhasan afiksasi dalam BJKP terjadi karena ada proses pembubuhan afiks pada bentuk dasar atau disebut proses afiksasi.  Kekhasan afiksasi BJKP terlihat pada penambahan akhiran {-an}, dan munculnya beberapa variasi beberapa tipe kata, yaitu mbayung  rembayung ~ lembayung, gondok ~ gondong ~ gondongen, krungu ~ ndungu, dugi ~ dumugi, uwang ~wang, tipe segelas ~ sakgelas, secangkir  ~ sakcangkir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2.1.1 Variasi Pemakaian Akhiran {-an}&lt;br /&gt; Kekhasan pada sistem morfologi dalam BJKP terlihat pada adanya penambahan  akhiran {-an}. Akhiran {-an} salah satu sufiks yang merupakan unsur afiksasi dalam BJKP. Variasi pemakaian akhiran {-an} adalah variasi penambahan sufiks {-an} dan {} pada bentuk nomina yang tidak mengubah kelas kata dan makna kata. Berikut beberapa contoh pemakaian variasi akhiran   {-an} dalam BJKB diuraikan pada data sebagai berikut:&lt;br /&gt;(1) jempol ~ jempolan ‘ibu jari’ (20) TP 1, 2, 3.&lt;br /&gt;(2) tlapuk  ~ tlapukan ‘pelupuk mata’ (52) TP 1, 2, 3. &lt;br /&gt;(3) jentik ~ jentikan ‘kelingking’ (28) TP 1,2,3.&lt;br /&gt;(4) tegal  ~ tegalan ‘ladang’ (189) TP 1,2,3.&lt;br /&gt;(5) pereng  ~  perengan’ lereng’ (193) TP 2,3&lt;br /&gt;(6) lirang ~ lirangan ‘sisir pisang’ (277) TP 2,3.&lt;br /&gt;(7) jeding ~ jedingan ‘penampung air hujan’ (127) TP 3&lt;br /&gt;(8) lereng ~ lerengan ‘lereng’ (193) TP 2, 3.&lt;br /&gt;(9) galeng ~ galengan ‘ladang’ (205) TP 1,2,3.&lt;br /&gt;(10) emper  ~ emperan ‘teras’ (130) TP 2.&lt;br /&gt;(11) gelung ~ gelungan ‘sanggul’ (226) TP 1,2,3.&lt;br /&gt;(12) darat ~ daratan ‘darat (153) TP1, 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2.1.1 Variasi Pemakaian mbayung ~rembayung ~ lembayung dan  gondok~ gondong ~gondongen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi bentuk ini memilik struktur le-/re- + -em- + bayung dan gondong + -en. Dalam BJB kata  itu disebut mbayung. Kemudian oleh penutur di Kabupaten Pati dikatakan menjadi dua variasi, yaitu rembayung dan lembayung. Hampir responden di ketiga TP tidak ada yang menyebutnya dengan mbayung yang sesuai dengan BJB. Hal ini dimungkinkan terjadi karena daerah Pantura Jawa Tengah merupakan jalur pedagangan dari berbagai daerah, sehingga kemungkinan bercampurnya bahasa satu dengan yang lain sangat dimungkinkan sehingga terjadi inovasi. Dalam hal ini terpengaruh dengan BI karena awalan {le-} dalam BI tidak ada. Kata lembayung sendiri merupakan bentuk dasar dalam BI. Sedangkan penyebutan rembayung, yaitu dengan awalan {re-}merupakan karena salam konsonan dari tempat artikulasi yang sama, yaitu sama-sama konsonan apiko-alveolar yang masing-masing lateral dan frikatif. &lt;br /&gt;Penggunaan kata rembayung atau lembayung dianggap lebih terkesan halus, tanpa memandang kata yang baku dari BJB, yaitu mbayung. &lt;br /&gt;Beberapa jenis variasi kata seperti di atas diuraikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;(1) mbayung ~lembayung ~ rembayung’ daun kacang panjang’ (264).&lt;br /&gt;(2) gondok ~gondong ~gondongen ‘gondok’ (361) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2.1.2 Variasi Pemakaian krungu~ ndungu dan dugi ~dumugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Variasi tipe ini memiliki struktur zero {} untuk kata krungu dan dugi, sedangkan struktur kata untuk ndungu adalah N- + krungu&gt; ndungu. Untuk struktur kata dumugi adalah dugi + um &gt; dumugi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4.2.1.3 Variasi Pemakaian wang ~uwang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2.1.4 Variasi Pemakaian sakgelas  ~ segelas dan sakcangkir ~secangkir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi tipe ini memiliki struktur sa- + bentuk dasar. Prefiks {sa-} memiliki dua alomorf, yaitu {sak-} dan {se}. Dalam BJB prefiks itu dipakai untuk menyatakan makna ukuran yang bermakna ‘satu’. Berikut adalah contoh dari data penelitian sebagai berikut;&lt;br /&gt;(1) sakgelas ~ segelas (434) &lt;br /&gt;(2) sakcangkir ~ secangkir (435)&lt;br /&gt;(3) sakkotak ~ sekotak (375)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Simpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pembahasan sebagaimana telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa pemakaian Bahasa jawa di Kabupaten pati memiliki perbedaan dengan BJB. Perbedaan itu meliputi tingkat fonologi, dan morfologi. Namun demikian, perbedaan tersebut tidak sampai menyebabkan antar penutur tidak saling memahami. Jadi perbedaannya hanya sampai taraf dialek saja. &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fisher, John L. 1958. “ Social Influences on the Choice of a Linguistic Variant”. dalam World 14, halaman 47-47.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Holmes, janet. 2001. An Introduction to sociolinguistics. Second edition. London: Longman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwo, Bambang Kaswanti. 1992. PELLBA 5: Bahasa Budaya. Jakarta: Lembaga Bahasa UNIKA ATMAJAYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------. 1994. Pemanfaatan Potensi Bahasa. Yogyakarta: Gajah Mada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunarso. 1994. “Pemakaian Tingkat Tutur Bahasa Jawa Dialek Banyumas di Daerah Banyumas”. Tesis S2 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;-------------.1997. “Variabel Kelas Sosial, Umur, dan Jenis Kelamin Penutur dalam penelitian Sosiolinguistik”. Dalam Jurnal Humaniora IV/1997. Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poedjosoedarmo, Soepomo. 1979. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------.1979. “Kode Tutur Masayarakat Jawa”. Yogyakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan UGM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trudgill. Peter. 1983. Sociolinguistics: An Introduction to Language and Society.London: Penguin Books.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------. 1983. On Dialect: Social and Geographical Perspectives. USA: Basil Blackwell. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wardaugh, Ronald. 1988. An Introduction to Sociolinguistics.Oxford: Basil Blackwell&lt;br /&gt;Wijana, I Putu Dewa. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-5506835931359589436?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/5506835931359589436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=5506835931359589436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/5506835931359589436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/5506835931359589436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2009/07/bahasa.html' title='Bahasa'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-4262902929915129796</id><published>2009-07-15T18:49:00.000-07:00</published><updated>2009-07-15T18:53:44.134-07:00</updated><title type='text'>Budaya</title><content type='html'>Salah Tafsir Konsep Budaya Jawa dalam Politik&lt;br /&gt;Ahdi Riyono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gegap gembita mengawali pencalonan capres dan cawapres 2009, manuver-manuver politik parpol pengusung calon masing-masing capres dan cawapres mulai memanas. Bahkan ada beberapa internal parpol yang pecah menjadi beberapa kubu. Ini terjadi, karena politik kita memang masih diwarnai politik balas jasa dan dagang sapi. Sehingga, komitmen ideologi seolah hanya menjadi topeng parpol tatkala mereka berkampanye untuk menjual partainya. Namun, ketika pemilu telah usai dan perolehan suara masing-masing parpol sudah diketahui, mereka mulai melakukan lobi-lobi politik untuk mendapatkan bagian kue kekuasaan. Bak semut yang selalu mengkrumuni gula, Partai Demokrat didekati partai-partai gurem untuk mendapatkan jatah kue kekuasaan. Pilpres 2009 ini juga diwarnai pertarungan etnis, Jawa dan non-Jawa, sipil dan milter. Isu tersebut dijadikan alat untuk menjual masing-masing calon untuk mendapatkan mandat rakyat lima tahun kedepan. Dari isu etnis, Etnis Jawa tetap mendominasi pilpres, karena semuanya berdarah Jawa, kecuali JK. Dia berasal dari Makassar yang merupakan representasi dari luar Jawa dan Indonesia. Memang, Politik Indonesia selama ini tidak bisa dilepaskan dari politik dan budaya Jawa. Selama Orde Baru, Budaya kekuasaan Jawa dipakai untuk melanggengkan kekuasaan dan mempertahankan status quo, Budaya adiluhung itu, dengan sengaja ditafsirkan salah  (displacing the meaning). &lt;br /&gt;Pemakaian ungkapan-ungkapan Jawa yang salah inilah, kemudian menimbulkan kontroversi masih layakkah budaya Jawa dipertahankan dalam politik modern sekarang ini. Tentu, pernyataan ini menyebabkan pro dan kontra di masyarakat kita. Namun demikian, kita harus arif dalam melihat permasalahan ini. Apakah budaya Jawanya yang salah ataukah pemakainya yang salah?.  Benar, jika budaya Jawa yang kratonik, ditafsirkan salah semau gue, tentu yang terjadi negara korup. Orang Jawa selalu bersikap inggih-inggih nun sendika dhawuh, yang bersifat semu bukan keikhlasan. Celakanya lagi, kemudian budaya upeti palsu, sulit terelakkan. Selama ini di kancah kepemimpinan Jawa terjadi perintah halus, manis dan akhirnya berubah menjadi otoriter. Akibatnya, atasan dan bawahan mengembungkan budaya “TST” (tahu sama tahu) untuk korupsi yang ujung-ujungnya untuk mempertahankan status Quo. Kalau begitu, mungkin saja negara ini kelak akan terbolak-balik-ada sekolah tinggi koruptor, yang dosen-dosennya dan rektornya ahli korup. Ini jelas sangat keterlaluan. Padahal pemimpin dalam filsafat Jawa harus benar dan dilandasi sabda pandhita ratu berbudi bawaleksana. Konsep bawaleksana ini, tampaknya sudah tak dihiraukan lagi, lalu muncul budaya korup. Bahkan, tak sekedar korup, juga nepotisme dan kolusi. &lt;br /&gt;Konsep budaya Jawa mikul dhuwur mendhem jero, juga telah dibelokkan menjadi budaya saling menutupi kesalahan orang lain dan kroninya. Yang unik lagi, manalaka budaya semacam ini akan terbongkar, akhirnya sering muncul budaya golek slamete dhewe. Tampaknya, budaya simbiosis busuk ini sudah semakin parah. Budaya Jawa belantik (dagang sapi) yang sebenarnay ke arah  harmonisasi (tawar menawar) agar menuju kesepakatan-telah disalahartikan lagi, menjadi jual beli kekuasaan, arisan loyalitas, dagang perkara, jual keadilan, tengkulak demokrasi dan seterusnya. Begitu juga budaya ewuh pakewuh yang sebenarnya adiluhung, dijadikan kambing hitam untuk menutupi teman seperjuangan. Ewuh Pakewuh adalah sendi budaya Jawa yng bai, berarti seharusnya atasan dan bawahan ewuh pakewuh berbuat “KKN”, tapi justru di era reformasi ini telah berubah total. Ewuh pakewuh menjadi budaya saling menutupi borok, tak mau mengadili kroni seadil-adilnya, dan akhirnya yang nampak asu gedhe menang kerahe. &lt;br /&gt;Lalu, mana budaya Jawa yang masih bersih penerapannya di era reformasi ini? Tak ada ? kira-kira begitu. Bayangkan kalau filsafat Jawa yang disebut madya (tengah) saja kini diobrak-abrik. Budaya Jawa mengenal hidup itu madya, seperti terungkap pada prinsip ngono yo ngono neng aja ngono telah dibelokkan artinya. Maksudnya, budaya ini menghendaki agar dalam pemerintahan seseorang tak terlalu berlebihan, tak memperkaya diri, tak menutupi kesalahan orang lain, tapi bisa berbuat adil. Yakni adil yang harmoni, tidak memihak. &lt;br /&gt;Akhirnya, saya usulkan melakukan restrukturisasi atau dekonstruksi budaya Jawa. Jadi tidak sekedar counter culture, tetapi harus neo-counter culture. Jika dulu R. Ng. Ranggawarsita dalam serat Kalatidha membuka aib pemerintah di zamannya amenagi zaman edan kini perlu didekosntruksi menjadi amerangi zaman edan. Tinggal berani atau tidak pemerintahan yang ada sekarang ini. Atau malah justru era sekarang akan mencetat  neo-zaman edan yang super gila lagi?&lt;br /&gt;Pemerintah seharusnya bersikap tanuhita (mengayomi) dan danahita (memberi ke bawah)-bukan sebaliknya mengeruk dana rakyat dengan berbagai dalih. Budaya mengeruk ini, adalah tradisi kolonialisme dulu, bukan budaya Jawa itu. Maka, budaya Jawa perlu ditelaah menggunakan perspektif postkolonialisme, bukan dari aspek moderismenya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-4262902929915129796?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/4262902929915129796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=4262902929915129796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/4262902929915129796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/4262902929915129796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2009/07/budaya.html' title='Budaya'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-6134014625110510753</id><published>2009-04-14T20:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-16T01:11:42.620-07:00</updated><title type='text'>Kesuksesan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sukses dengan Keyakinan dan doa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ahdi Riyono, S.S., M.Hum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bisnis masa depan selalu menjadi milik orang yang bisa melihat kemungkinan sebelum  kemungkinan itu menjadi jelas bagi orang lain (Mario Teguh, 2005).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan manusia mengenal kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kehidupan masa kini ditentukan oleh kehidupan masa lalu, dan kehidupan masa depan ditentukan oleh kehidupan masa kini. Ini artinya, apa yang kita alami dan jalani sekarang ini adalah dari hasil pikiran  dan gambaran kita  di masa lalu yang telah kita yakini akan terjadi di masa depan. Sebagai gambaran, sebelum terciptanya pesawat terbang yang dapat mengangkut manusia dari satu tempat ke tempat yang lain melalui udara bagai burung yang terbang, yang dapat menempuh jarak ratusan mil  hanya dengan hitungan jam, tentu sudah ada dalam pikiran dan gambaran penciptanya sebelumnya. Cahaya kerlap-kerlip bintang di langit yang kita lihat sekarang ini adalah sebuah planet yang telah meledak miliaran tahun cahaya yang lalu. &lt;br /&gt;Begitu juga, Bill Clinton sebelum ia menjadi presiden Amerika Serikat, ternyata dia sudah membayangkan dan mengikrarkan sebagai presiden tatkala masih duduk di bangku kuliah. Dan kepada teman-temanya, dia selalu mengatakan mana buku kalian saya tandatangani sebelum nanti kalian sulit menemui saya. Dalam tanda tangannya, dia juga senantiasa menulis Bill Clinton, the President of the United State of America. Akhirnya,  mimpinya dapat terwujud dan menjadi presiden. Begitu juga, ayahanda Gus Dur, Kyai Hasim Asyari, senantiasa mengikrarkan Gus Dur kecil sebagai pemimpin di masa depan, dan selalu diulang-ulang setiap Gus Dur diajak untuk mengisi suatu acara. Dalam kaitan itu,  Gus Dur pun menjadi presiden ke-3 Indonesia. Padahal,  jika dilihat dari kalkulasi politik pada waktu itu, dan keadaan fisik, Amien Raislah yang berpeluang besar menduduki kursi kepresidenan. Sebaliknya,  Amien Rais kecil oleh orang tunya tidak diharapkan jadi pemimpin bangsa, dan hanya diikrarkan  menjadi pengganti orang tuanya, sebagai pendidik. Dan, kalimat itulah yang diucapkan berkali-kali oleh orang tuanya tatkala ditanyai tentang hal itu, maka yang terwujud adalah apa yang dipikirkannya. Kenyataannya, beliau hanya sebagai Guru Besar FISIPOL UGM.  Ini adalah sedikit gambaran yang membuktikan bahwa kejadian sekarang ini adalah hasil dari pikiran dan kedasyatan kenyakinan masa lalu. &lt;br /&gt;Doa sebagai bentuk pengharapan kepada Tuhan adalah suatu bentuk masa kini, dan gambaran kejadian masa depan. Oleh sebab itu, Tuhan senantiasa menyuruh setiap hamba-Nya untuk berdoa, dan Tuhan berjanji untuk mengabulkan setiap permintaan hambanya. Dan lagi, Tuhan sebagaimana sifat ketuhanannya pasti mengabulkan semua permintaan tadi. Hanya saja, kadang dalam berdoa dan berfikir masa depan, kita kurang spesifik dan tidak membanyangkan apa yang kita pikirkan terjadi. Bahkan kita sering berdoa, tetapi tidak mengerti apa yang sebetulnya kita minta. Sehingga wajar saja,  doa kita tidak  dikabulkan Allah karena kurang spesifik, pikiran kurang  yakin, dan tidak berterimakasih doa kita telah dikabulkan. &lt;br /&gt; Bagi Tuhan tidak dikenal masa lalu, masa kini, dan masa depan. Apa yang kita minta pada hakikatnya sudah dikabulkan oleh Tuhan. Yang menjadi pertanyaan kita adalah  kenapa doa kita sering tidak terkabul? Padahal Tuhan sudah berjanji mengabulkan, dan tentunya, dia tidak mungkin melanggar janji-Nya. Coba kita renungkan apakah ketika kita berdoa sudah spesifik?, Apakah  pikiran sadar kita justru menolak doa kita sendiri? &lt;br /&gt;Doa sebagaimana pikiran kita, ia akan terwujud kalau kita membawanya ke dalam alam bawah sadar yang  tidak  mengenal bentuk negasi dan kata tidak mungkin. Bagi alam bawah sadar,  semua hal adalah  kemungkinan. Alam bawah sadar adalah pikiran tatkala memasuki kondisi gelombang theta. Pada waktu itu keheningan, kepasrahan, ketenangan, kedalaman, dan puncak kebahagiaan dirasakan. Oleh sebab itu, kalau kita berdoa kita bayangkan apa yang kita minta dengan gambaran yang spesifik, jelas, dan benar-benar sudah terjadi. Kemudian masukkan apa yang kita minta ke alam bawah sadar sampai tidak ada lagi kata-kata tidak mungkin. &lt;br /&gt;Ketika masih awal penyebaran Islam,  Nabi  Muhammad SAW telah mengatakan sesuatu hal yang menyakinkan kepada ummat Islam yang pada waktu itu jumlahnya hanya beberapa puluh saja, dikejar-kejar dan diburu orang-orang Quraish untuk dibunuh agar menyakini bahwa mereka suatu saat akan dapat kemenangan.  Beliau berkata “ wahai ummatku engkau akan menguasai kota Heraclius (baca: Konstantinopel atau Istambul Turki sekarang)  dan Rum”.  Beliau mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan gambaran yang jelas tentang kemenangan itu. Dan beliau pun bersyukur kepada Allah yang telah memenangkan kaum muslimin.  Padahal,  kalau kita nalar (baca: reaksi alam bawah sadar) pasti akan menolak, dan mengatakan hal itu tidak  mungkin terjadi.&lt;br /&gt; Karena memang secara fakta, pada waktu itu keadaan kaum muslimin tidak mungkin dapat mengalahkan Negara Romawi Timur, yang pada waktu itu adalah negara super power, dan menguasai hampir seluruh wilayah Eropa timur dan sebagian Asia dan Afrika. Namun, dengan kekuatan kenyakinan dan doa, semua yang kelihatan mustakhil akhirnya dapat terwujud. Terbukti, setelah masa kekhilafaan Usmaniah dibawah kepemimpinan Sultan Muhammad Alfatih Ummat Islam dapat menaklukkan Kekaisaran Romawi, dan merebut kota Konstantinopel. &lt;br /&gt;Kalau kita sedikit mau menengok kehidupan kita sehari-hari, pasti akan ada suatu peristiwa yang secara nalar mustahil terwujud, tapi pada kenyataannya, dapat terwujud. Coba renungkanlah sendiri!. &lt;br /&gt;Sekali lagi, dalam berdoa harus be spesific, be optimistic, be sure, bahwa doa kita telah dikabulkan oleh Allah SWT. Dan diakhiri dengan mengucapkan terimakasih kepada Tuhan yang telah mengabulkan apa yang kita pikirkan dan kita yakini. Dengan demikian,  dengan kenyakinan, dan doa  kesuksesan dapat kita raih. &lt;br /&gt;Untuk membantu kekhusukan Anda, coba  berdoa pada waktu semua orang tertidur, yaitu sekitar pukul satu malam dimana pikiran manusia dalam keadaan gelombang Theta, yaitu gelombang otak, pada kisaran frekuensi 4-8 Hz, yang dihasilkan pikiran bawah sadar  (subconscious mind). Awali dengan sholat malam dua rekaat dan berdoa. Amin.&lt;br /&gt;Mulai hari ini coba berdoa dengan spesifik, jelas, dan gambarkan apa yang diminta disertai kenyakinan, akhirilah dengan berterimakasih. Kemudian,  lihat keajaiban apa yang terjadi!!!!.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-6134014625110510753?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/6134014625110510753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=6134014625110510753' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/6134014625110510753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/6134014625110510753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2009/04/kesuksesan.html' title='Kesuksesan'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-6100673321445428279</id><published>2009-04-10T01:00:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T01:03:32.891-07:00</updated><title type='text'>BUDAYA JAWA</title><content type='html'>SLAMETAN TINGKEBAN DALAM BUDAYA JAWA&lt;br /&gt;(Simbol Mekanisme Harapan Keteraturan Kosmos)&lt;br /&gt;Oleh Ahdi Riyono, S.S., M.Hum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut Kepercayaan Orang Jawa, manusia berasal dari Zat Tuhan (hening) yang pada akhirnya kesemuanya itu akan kembali ke asal muasalnya. Zat Tuhan melingkupi alam semesta sebagai perwujudan makro-kosmos (Jagad Gedhe) dan manusia dipandang sebagai makro-kosmos (Jagad Cilik). Manusia sebagai mikro-kosmos berkaitan erat dengan makrokosmos sehingga peristiwa harmoni dan peristiwa kekacauan diantara keduanya saling mempengaruhi meluas ke alam masyarakat secara horisontal (Rajiyem, 2001). Alam mempunyai karakteristik tertentu sehingga memungkinkan terjadinya bentrokan antara Jagad Cilik dan Jagad Gedhe. Dengan kata lain, keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos bisa terganggu. &lt;br /&gt; Oleh sebab itu, masyakarakat Jawa melakukan upacara-upacara slametan yang menampilkan gambaran-gambaran simbolik hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos, yang digambarkan dalam bentuk sesaji atau sajen. Sajen sarat dengan berbagai simbol, yang oleh masyarakat tradisional dianggap sebagai upaya pendekatan manusia kepada Tuhan-Nya, yang menciptakan, menurunkannya ke dunia, memelihara hidup, dan menentukan kematian manusia. &lt;br /&gt;Simbol dalam upacara ini juga menandakan hubungan horizontal  antara manusia yang satu dengan yang lain. Contoh pemakaian simbol juga bisa kita lihat bila kita kedatangan tamu, kita sebagai orang Jawa tentu akan menyuguhi tamunya dengan minuman sekedarnya. Minuman itu biasa disebut wedang yang artinya ngawe kadang. Isi pesan yang disampaikan adalah menunjukkan sikap yang ramah tamah dan menganggap orang lain sebagai saudara. &lt;br /&gt; Simbol adalah suatu benda atau keadaan atau hal lain yang mempunyai arti luas dan memerlukan pemahaman manusia akan arti yang terkandung dalam lambang-lambang tersebut (Herusatoto, 1987). Dengan kata lain, simbol merupakan tanda berdasarkan konvensi, kesepakatan atau  perjanjian yang disepakati bersama (Tinarbuko, 2008).&lt;br /&gt; Disebut upacara slametan sebab keadaan yang diinginkan adalah keadaan slamet atau selamat; selamat tidak ada sesuatu yang buruk atau negatif yang menimpa. Keadaan ini diminta atau diharapkan manusia dari Tuhan atau makhluk gaib lainnya melalui upacara itu. Karena merupakan usaha atau tindakan yang mendahului permohonan dan harapan, selamatan merupakan cara yang secara psikologis untuk memperkecil ketidakpastian, ketegangan, dan konflik dalam menghadapi masa-masa kritis dalam kehidupan manusia. Menurut Clifford Geertz (1981) selamatan atau kenduri adalah upacara yang sederhana, formal, tidak dramatis, dan hampir mengandung rahasia selamatan yang bersifat mistis.  Slemetan juga mengandung nilai sosial karena tidak seorang pun merasa terbebani, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Semuannya diperlakukan sama. &lt;br /&gt; Upacara slametan dilakukan bila keadaan dianggap genting, misalnya upacara selamatan ibu hamil ketika usia kehamilan telah mencapai bulan ke tujuh. Orang Jawa percaya bahwa bayi sudah berwujud manusia sempurna atau insan kamil. &lt;br /&gt; Sesaji-sesaji yang disajikan dalam slametan ini berupa nasi tumpeng 7 buah, jenang procot, sego golong 2 buah, tumpeng robyong, jenang pepak/moncowarna, jajan pasar, sambel edan dan pallus gupak.&lt;br /&gt;Sajen tumpeng 7 buah itu bermakna bahwa kehamilan sudah berumur 7 bulan. Sedangkan nasi tumpeng yang berbentuk kerucut ditujukan kepada yang mencipta hidup atau sing ngawe urip (zat ikang murbing dumadi). Sedangkan menurut Rajiyem  (2001) bentuk tumpeng mengacu pada bentuk piramida menurut kepercayaan Jawa lama, Asia Tenggara dan daratan Asia. Bentuk piramid merupakan bentuk yang paling tepat memperlihatkan trigatra, yakni kekuatan yang bersegi tiga dari kekuasaan horizontal dan vertikal atau kekuasaan rakyat dengan gusti, penguasa, dan kekuasaan perantara atau  tiga arti, yaitu  alam atas, alam tengah, dan alam bawah. Alam tengah disebut alam antara  atau kekuasaan duniawi dan rohani dalam kehidupan spiritual, yakni mikrokosmos sebagai jagad manusia dan makrokosmos  sebagai jagad agung (alam semesta). Tumpeng juga mengambarkan kekuasaan tertinggi yang disebut dewandaru. Kekuasaan manusia sebagai fondasi dasarnya yang disebut jalandaru.&lt;br /&gt;Jenang Procot adalah untuk melambangkan harapan agar banyi nantinya dapat lahir dengan mudah, lancar karena licin.&lt;br /&gt;Sega golong atau nasi dikepal bundar  adalah melambangkan kepaduan bersama atau pemusatan pikiran bersama dalam mengharapkan keselamatan.&lt;br /&gt;Tumpeng Robyong berupa nasi tumpeng (biasanya kecil saja) yang disekitarnya ditancapi kacang panjang, lombok abang, bawang merah dll. Sesaji ini ditujukan kepada Juru Mertani yang menguasai dunia pertanian dengan harapan agar tanama-tanaman pertanian menjadi lebih subur, atau calon sibayi nanti diberi kemudahan rezeki. &lt;br /&gt;Jenang pepak/moncowarno berupa jenang abang (bubur merah), jenang putih (bubur putih), jenang ireng (bubur hitam) dan jenang baro-baro ( bubur aneka warna). Sesaji ini ditujukan kepada 4 anasir yang berupa getih abang (darah merah) atau anasir api, getih putih (darah putih) atau anasir air, getih kuning (darah kuning) atau anasir udara (hawa), dan getih ireng (darah hitam) atau anasir tanah. Jenang boro-boro berati campuran dengan warna biru maya atau aneka warna. Ini melambangkan manusia berasal dari empat anasir sebagai badhan wadhag, yang mewadihi sukmo sejati. Dengan harapan, agar kempat anasir dan roh ilahi menyatu secara utuh, sehingga diperoleh keserasian dan harmoni dalam diri sang jabang bayi, serta refleksinya dalam keseimbangan kosmos. &lt;br /&gt;Jajan Pasar berupa bermacam-macam panganan dan buah-buahan yang dibeli dari pasar yang dipersembahkan kepada Nabi Sulaiman yang menguasai kutu-kutu walang ataga, yaitu sejenis hama penyakit, dengan harapan segala yang hidup tidak diganggu oleh hama-hama dan penyakit. &lt;br /&gt;Sambel edan berupa sambal kelapa, leher ayam, sayur-sayuran dan bonggol pandan, maksudnya sebagai gugur gunung atau pencegahan terhadap gangguan-gangguan yang ada menimpa banyi dan keluarga.&lt;br /&gt;Paluk Gupak berupa jadah yang diberi gula jawa. ini berati bahwa keberadan banyi itu lantaran perpaduan benih pihak laki-laki dan perempuan. &lt;br /&gt; Inti dari upacara tingkeban sebenarnya adalah upacara mandi kembang setaman (air bunga tiga jenis: kanthil, melati, kenanga), tujuannya untuk mensucikan wanita yang hamil dan suaminya. Upacara ini biasanya dipimpin seoarng dukun banyi atau orang tua yang punya banyak anak dan semuanya telah hidup tentram.  Saat memandikan si dukun memanjatkan doa atau mantra ”Sukreto molo tremolo luputo soko godha rencana” . Tujuannya agar suami istri dan banyinya selamat dari semua gangguan dan penyakit. kemudian pikiran dan watak yang jelek dari orang tua tidak menurun pada si bayi. Juga menghilangkan ganguan gaib seperti jin, setan, dhemit, lelembut dan sebagainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-6100673321445428279?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/6100673321445428279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=6100673321445428279' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/6100673321445428279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/6100673321445428279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2009/04/budaya-jawa.html' title='BUDAYA JAWA'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-8102331360171760599</id><published>2009-04-09T00:40:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T00:45:27.871-07:00</updated><title type='text'>Filsafat Jawa</title><content type='html'>SANGKAN PARANING DUMADI1&lt;br /&gt;(PADANGAN ORANG JAWA TERHADAP HIDUP)&lt;br /&gt;Ahdi Riyono, S.S., M.Hum2&lt;br /&gt;(Pemerhati Budaya) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam padangan Jawa sebagaimana tersurat dalam Serat Kridasastra Winardi karangan M.Ng. Mangunwijaya, manusia berasal dari hening atau (Tuhan). Menurut kepercayaan kejawen Dzat Tuhan (ndating Pangeran) itu meliputi alam semesta yang dipandang makro-kosmos (Jagad Gedhe) dan Manusia sebagai mikro-kosmos (Jagad Cilik). &lt;br /&gt;Alam Semesta (Jagad Gedhe) diciptakan Tuhan terkait dengan hidup manusia. Agar hidup manusia selamat, ia harus bisa memahami alam semesta sebagai simbol kekuasaan Tuhan. Alam hidup manusia, oleh Tuhan diberikan arah (kiblat) agar orang Jawa tidak salah arah. Arah tersebut dinamakan keblat papat lima pancer, artinya empat penjuru dan satu di tengah. Kiblat alam ini diawali dari timur (wetan), artinya kawitan (mula). Arah timur adalah awal kiblat sebagai lambang saudara manusia yang disebut kawah. Selanjutnya menyusul selatan (kidul) sebagai lambang darah, barat (kulon) sebagai lambang tali pusar/plasenta, dan utara (lor), lambang adhi ari-ari.&lt;br /&gt;Arah kiblat tersebut dalam hidup manusia senantiasa disatukan atau diseimbangkan. Jika tidak, diantara saudara manusia akan mengganggu hidupnya. Sebaliknya, kalau tercapai keseimbangan dalam berteman dengan empat saudara tadi, keempatnya mau membantu (ngewang-ewangi) pancer. Untuk itu, biasanya orang Jawa mengadakan upacara selamatan dengan sesaji khusus. Sesaji tersebut mencakup tiga hal (ubarampe), yaitu: (1) nasi tumpeng (berbetuk kerucut) lima buah, diletakkan pada tambir dalam posisi empat dan satu di tengah. Tumpeng yang ditengah dibuat paling tinggi atau besar sebagai pancer; (2) bunga setaman lima macam, yaitu mawar merah, melati puti, kenanga hijau, kanthil putih, ndan kanthil kuning. Bunga ini sebagai simbol empat saudara dan pancer; (3) pelita dengan minyak kelapa sebagai lambang hidup. &lt;br /&gt;Manusia sebagai mikro-kosmos sebenarnya perwujudan Badan Kasar (badan wadhag. Badan Wadhag terbentuk dari campuran 4 anasir (unsur), yaitu: api (geni), bumi (tanah), angin, dan air (banyu), sekaligus di dalamnya terletak satu nafsu dengan empat perwujudan (patang perkara) berupa Amarah, Luwamah, Supiah dan Mutmainah. &lt;br /&gt;Anasir Api (agni) berasal dari sinar matahari. Manusia tidak bisa hidup tanpa adanya matahari. Adapun nafsu yang terpancar dari anasir ini adalah nafsu amarah. Nafsu ini memiliki identifikasi warna merah. Perwujudannya dalam badan wadhag adalah darah yang memberi semangat gerak atau tenaga. Apabila nafsu amarah ini lepas tak terkendali secara berlebihan akan merefleksikan sifat-sifat mudah marah (Brangasan). Roh yang menjiwai anasir api adalah roh hewani, yaitu sejenis roh pelikan. Di samping itu dalam suluk sangkan paran disebutkan bahwa nafsu amarah ini kedudukannya di telinga. Itulah sebabnya orang dapat mendengar dan menurut kepercayaan orang Jawa dari telinga inilah sumber kemarahan (atau emosi). &lt;br /&gt;Anasir Bumi (tanah) dalam diri manusia dipercaya berasal dari tanam-tanaman yang dimakan. Sedangkan Nafsu yang terpancar dari anasir ini adalah nafsu Luwamah yang diidentifikasikan berwarna hitam. Adapun fungsi makan berguna dalam pertumbuhan badan wadhag. Apabila nafsu luwamah ini dimanjakan menyebabkan orang suka makan banyak (berlebihan). Kemudian roh yang menjiwai anasir ini adalah roh nabati (sejenis roh tanaman). Dalam kitab suluk sangkan paran disebutkan bahwa nafsu luwamah ini wataknya bisa berbicara, maka kedudukannya di mulut. &lt;br /&gt;Anasir angin berasal dari suasana udara. Manusia hidup tentunya bernafas dengan udara. Dari udara terpancar nafsu supiah yang berwarna kuning. Di dalam diri manusia (badan wadhag) nafsu ini berkedudukan di hidung, dengan perwujudan nafas, sehingga manusia dapat membau segala sesuatu yang sedap dan tidak. Nafas juga menyebabkan manusia memiliki nafsu birahi. Apabila nafsu ini tak terkendali manusia akan menjadi layaknya hewan dan tak akan ada batas kepuasan. Selanjutnya roh yang menjiwai anasir ini adalah roh hewani, sejenis roh binatang. Jika dalam Suluk sangkan paran nafsu supiah berkedudukan di mata, sebagai pancaindera penglihatan. Penglihatan juga dapat memicu nafsu birahi sebagai perwujudan nafsu supiyah. &lt;br /&gt;Yang terakhir adalah anasir air (tirta atau toya) berasal dari semua air yang diminum manusia. Nafsu yang terpancar dari anasir air adalah nafsu mutmainnah warna putih. Perwujudannya dalam badan wadhag juga berupa air yang membentuk badan dan sisanya dikeluarkan dari badan. Pancaran watak dari air menyebabkan manusia mempunyai sifat tentram, tenang, dan suka berfikir serta suka mempelajari hal-hal yang gaib. Adapun yang menjiwai anasir air adalah roh insani, sejenis roh manusia. &lt;br /&gt;Menurut kepercayaan Jawa, apabila janin sudah berusia 9 bulan 10 hari, maka bayi sudah memiliki unsur-unsur tersebut yang pada masing-masing individu dosisnya tentu tidak sama. Inilah yang menyebabkan perbedaan-perbedaan kemampuan pikir, akal, awtak, keinginan-keinginan dan aktivitasnya. Namun, perbedaan itu dapat berubah dengan usaha-usaha tertentu dari orang yang bersangkutan. Misalnya jika anasir merah dan kuning yang dominan maka orang tersebut ada bakat mudah marah dan suka melampiaskan hawa nafsu berlebihan. Tapi jika yang bersangkutan sadar dan insaf kemudian berlaku prihatin dan sering berpuasa maka suasana batinnya dapat mencapai harmoni. Hasilnya rasa tentram dalam hidup. Sebaliknya sekalipun anasir putih (lambang kesucian) yang dominan dan memiliki potensi mengandalikan diri , namun apabila orang ini tidak tahan uji dengan berlaku berangsan atau melampiaskan hawa nafsu dan angkara murka yang berlebihan, maka potensi orang ini dapat tersesat batinya. Akibatnya dia akan mengalami ketidaktenagan hidup atau penderitaan. &lt;br /&gt;Perwatakan dan nasib manusia juga dipengaruhi unsur-unsur kosmos yang tercermin pada waktu seorang manusia dilahirkan ke dunia fana ini. Dalam hal ini mencakup 7 hari, pasaran, bulan dan tahun. Selain itu juga perlu memperhatikan arah angin yang berkaitan dengan hari pasaran, simbol logam, hewan dan dewanya. Semua ini dipakai sebagai dasar perhitungan  (petungan, jawa) untuk meramalkan keberuntungan, menentukan perwatakan, menentukan jenis kerja yang cocok, jodoh, dan waktu pernikahan, arah tempat kerja yang menguntungkan, hari-hari baik untuk berpergian, pindah rumah, dan mendirikan rumah dan sebagainya.&lt;br /&gt;Apabila unsur-unsur tadi disimpulkan maka akan menjadi sebagai berikut:&lt;br /&gt;Arah angin&lt;br /&gt;Bathara (dewa)&lt;br /&gt;warna&lt;br /&gt;pasaran&lt;br /&gt;logam&lt;br /&gt;Hewan&lt;br /&gt;Timur&lt;br /&gt;Kamajaya&lt;br /&gt;Putih &lt;br /&gt;legi&lt;br /&gt;perak&lt;br /&gt;Srigunting &lt;br /&gt;Barat&lt;br /&gt;Bayu&lt;br /&gt;Kuning&lt;br /&gt;Pon&lt;br /&gt;Emas&lt;br /&gt;Sapi Gumarang&lt;br /&gt;Tengah&lt;br /&gt;Guru&lt;br /&gt;campuran&lt;br /&gt;kliwon&lt;br /&gt;campuran&lt;br /&gt;kutilapas&lt;br /&gt;Selatan&lt;br /&gt;Brama&lt;br /&gt;merah&lt;br /&gt;paing&lt;br /&gt;suwasa&lt;br /&gt;asu ajag&lt;br /&gt;Utara&lt;br /&gt;Wisnu&lt;br /&gt;hitam&lt;br /&gt;wage&lt;br /&gt;besi&lt;br /&gt;celeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa dalam alam pikir orang Jawa, terdapat pemikiran adanya saling keterikatan yang teratur  dan harmonis antara alam semesta, segala sesuatu di dunia termasuk manusia dan kehidupan manusia memiliki hubungan-hubungan dekat terikat dengan semua hal di sekitarnya, baik hidup maupun yang mati, dengan keseluruhan kosmos.&lt;br /&gt;Dengan demikian kondisi tentram dan selamat adalah kondisi yang didambakan seluruh masyarakat dalam kehidupan individu maupun bermasyarakat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-8102331360171760599?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/8102331360171760599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=8102331360171760599' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/8102331360171760599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/8102331360171760599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2009/04/filsafat-jawa.html' title='Filsafat Jawa'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-5420230864260661936</id><published>2009-02-23T22:41:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T22:44:27.248-08:00</updated><title type='text'>PENGUNGKAPAN MAKNA ASPEKTUALITAS                                                                     REDUPLIKASI DALAM BAHASA JAWA: KAJIAN MORFOLOGI</title><content type='html'>Oleh Ahdi Riyono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstract&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reduplication can be divided into two categories, namely total reduplication, and partial reduplication. The reduplication in Javanese can be analyzed to discover the meaning of aspectuality. Actually, there are eight aspectual meanings found in Javanese through reduplication process. They consist of iterative, continuative, durative atenuative, durative deminutive, iterative reciprocative, habituative, ingressive, and continuative intensive. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Key word: reduplication, aspectuality, and meaning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam linguistik umum terdapat tiga subkategori tata-bahasa yang berurusan dengan semantik verba, yakni aspektualitas, temporalitas dan modalitas. Menurut Tadjuddin (2005:3) aspektualitas dan temporalitas mempelajari sifat-sifat keberlangsungan situasi (yaitu gejala luar bahasa yang berupa peristiwa, proses/aktivitas, keadaan) dilihat dari segi waktu yang menyertai keberlangsungan situasi tersebut, sedangkan modalitas mempelajari situasi dari sudut pandang bermacam-macam sikap pembicara terhadap situasi yang berlangsung.&lt;br /&gt; Ketiga bidang kajian linguistik itu dalam bahasa-bahasa itu diungkapkan melalui proses morfologi yang luas dan teratur. Adapun studi tentang aspektualitas bisa dikatakan rumit. Oleh karena itu, studi tentang aspektualitas merupakan lahan yang subur bagi para peneliti dan  karena itu pula, tidaklah mengherankan apabila dalam hal ini pandangan para pakar cukup beragam.  Tadjuddin (2005: 19) mengusulkan pembagian aspektualitas ke dalam dua kelompok besar, yaitu bentuk morfologi dan bentuk sintaksis. Bentuk morfologi terdiri atas (1) aspek (kategori gramatikal/infleksional/paradigmatik atau disebut juga gramatikal terbuka) dan (2) aksionalitas. (kategori leksiko-gramatikal atau disebut juga gramatikal tertutup) dan (3) makna aspektualitas inheren verba (MAIV, kategori leksikal). Adapun bentuk sintaksis terdiri atas  aspektualitas pada tataran klausa, yang terdiri atas frasa verba, /predikat, frasa keterangan, frasa nomina, dan aspektualitas pada tataran kalimat.  &lt;br /&gt;Sebagaimana diungkapkan Tadjuddin (1993: 3) bahwa aspektualitas dapat diungkapkan melalui berbagai macam cara atau bentuk, baik secara morfologis, maupun sintaksis. Namun mengingat luasnya permasalahan, pembahasan dalam makalah ini hanya dibatasi pada pembahasan dalam bidang morfologi, khususnya dalam pengungkapan makna aspektualitas melalui reduplikasi dalam bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kajian Pustaka&lt;br /&gt;2.1 Pengertian Aspektulitas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aspek” adalah masalah sudut pandang (perspektif) pembicara tentang suatu situasi, misalnya aspek perfektif (peristiwa utuh atau lengkap), aspek imperfektif (sedang berlansung), aspek inkoatif (titik awal), aspek kontinuatif (keberlanjutan), aspek egresif (titik akhir), aspek iteratif (keberulangan).  Adapun definisi lainnya menurut Sumarlam (2005: 27) aspek sebenarnya bukan merupakan sudut pandang pembicara tetapi sifat situasi yang digambarkan, apakah itu statis atau dinamis, terminatif atau duratif, terikat atau tidak terikat, kontinu atau iteratif. “Aspek” yang dirumuskan dengan cara ini lebih tepat disebut dengan istilah Jerman “Aktionsart” atau ragam tindakan.     &lt;br /&gt;Istilah “aspektualitas”, sebagaimana disarankan oleh Tadjuddin (2005: 5) sebagai terjemahan istilah Rusia “ aspektual nost” (Bonarko, 1971; dan Maslov, 1978) dan istilah Inggris “aspectuality” (Dik, 1989), digunakan sebagai konsep umum yang meliputi baik aspek maupun aksionalitas. Aspek merupakan kategori gramatikal (morfologi infleksional), sedangkan aksionalitas merupakan kategori leksiko-gramatikal (Tadjuddin, 1993:24). Penggunaan istilah aspektualitas (aspectuality) sebagai konsep umum yang secara tersurat atau tersirat menggambarkan dua gejala luar bahasa, yaitu unsur waktu (time, temporal, moment), dan unsur situasi (event, action, process, activity). Atas dasar ciri-ciri itulah Tadjuddin (1993)  menegaskan bahwa aspektualitas berurusan dengan macam-macam sifat unsur waktu internal situasi.  Dalam hal ini perlu dibedakan  antara aspektualitas dan temporalitas sebab aspektualitas berurusan dengan unsur waktu yang bersifat internal sedangkan, temporalitas berurusan dengan unsur waktu yang bersifat eksternal (Djajasudarma, 1985: 75, 1986: 34; Tadjuddin, 1993: 25; Sumarlam, 2004: 28).&lt;br /&gt; 2.2. Cara-cara Pengungkapan Makna Aspektulitas&lt;br /&gt; Istilah yang mengacu pada jenis-jenis makna aspektualitas ialah bentuk kata yang lebih sederhana seperti inkoatif, ingresif, progresif, adapun batasan aiatu pengertian masing-masing diambil dari batasan atau pengertian yang dikemukakan oleh Tadjuddin (1993:65-74).&lt;br /&gt;(1). Inkoatif &lt;br /&gt; Makna inkoatif menggambarkan situasi yang memberikan tekanan pada permulaan keberlangsungan. Dalam BI, makna aspektualitas inkoatif dapat diamati  pada penggunaan partikel pun dan lah bersama verba aktivitas dan verba statis  atau secara eksplisit melalui penggunaan kata mulai. Dalam BJ, makna aspektualitas inkoatif dapat diungkapkan dengan penggunaan pemarkah frasa verbal wiwit’mulai’ dan lekas’mulai’.&lt;br /&gt;(2). Ingresif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas ini sebetulnya sama dengan makna inkoatif, hanya perbedaannnya pada penekanan pada segi permulaan keberlangsungannya. Sedangkan makna aspektualitas ingresif memberikan gambaran situasi yang tak terpisahkan antara saat permulaan dengan kelanjutan. Dalam BJ dapat diamati penggunaan kata wis’sudah’ dan pemarkah frasa adverbial durasi wiwit ’sejak’. Dalam BI dapat diamati dengan penggunaan sudah, telah bersama verba statis, dengan pemarkah frasa adverbia sejak.&lt;br /&gt;(3). Progresif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas progresif menggambarkan situasi yang keberlangsungannya bersifat sementara. Dalam BJ dapat diamati damalam penggunaan pemarkah frasa verba lagi atau pinuju’sedang’. Sedangkan dalam BI menggunakan kata sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4). Terminatif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas ini menggambarkan situasi yang memberikan tekanan pada segi akhir keberlangsungannya. Dalam BJ, makna ini dapat diamati pada penggunaan pemarkah frasal verbal bubar’selesai, usai dan pemarkah frasa adverbial durasi nganti’sampai’, ‘hingga’. Dalam BI dipergunakan  selesai, usai, dan adverbial durasi sampai, hingga.&lt;br /&gt;(5). Semelfaktif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas semelfaktif menggambarkan situasi yang berlangsung hanya satu kali dan biasanya bersifat sekejap. Dalam BJ makna aspektualitas ini dapat diungkapkan dengan penggunaan adverbial ujug-ujug’tiba-tiba’, sanalika ‘seketika’ ngerti-ngerti ‘tahu-tahu dan sebagainya. Sedangkan dalam BI dengan menggunakan adverbial tiba-tiba, seketika, sekilas, dan sekejap.&lt;br /&gt;(6). Iteratif/ frekuentatif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas iteratif menggambarkan situasi yang berlangsung berulang-ulang. Dalam BJ, makna aspektualitas ini dapat diamati antara lain pada penggunaan verba bersufiks –i seperti nuthuki’memukuli’, njiwiti ‘mencubiti’ atau verba reduplikasi dengan dasar pungtual tipe nuthuk-nuthuk ‘memukul-mukul, nendhang-nendhang ‘menendang-nendang’ dsb atau pada penggunaan pemarkah frasa verbal kerep ‘sering’, tansah ‘selalu’ dan sebagainya. Sedangkan dalam BI makana iteratif dapat  diamati antara lain, pada penggunggaan verba reduplikasi dengan dasar verpa pungtual tipe memukul-mukul, menendang-nendang, penggunaan sufiks–i pada verba pungtual tiep memukuli, memotongi atau adverbial aspektualiser selalu, berulang-ulang, berkali-kali.  &lt;br /&gt;(7). Habitualitif&lt;br /&gt; Situasi habituatif menurut Tadjuddin (1993:8) adalah bagian dari situasi iteratif, bukan sebaliknya. Dengan perkataan lain, situasi habituatif selalu mengandung makna habituatif. Dalam BJ makna aspektualitas habituatif dapat diungkapkan dengan pemarkah leksikal biasane’biasanya’, adate’biasanya’, kulina ‘biasa, dan kulinane’ biasanya’. Dalam BI menggunakan terjemahannya. &lt;br /&gt;(8). Kontinuatif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas kontinuatif menggambarkan situasi yang berlangsung secara terus-menerus dalam rentang waktu yang relatif lama. Dalam BJ makna aspektualitas ini dapat diungkapkan dengan penggunaan pemarkah terus-terusan ‘terus menerus’ dan tetep’ tetap’. Sedangkan dalam BI dapat diungkapkan melalui adverbia durasi seperti lama, sebentar, terus-menerus, tak henti-hentinya, dsb. &lt;br /&gt;(9). Kompletif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas kompletif atau resultatif menggambarkan situasi yang berlangsung secara bulat dan menyeluruh, dari awal sampai akhir dan biasanya disertai hasil. Dalam BI biasanya digunakan pemarkah verbal wis’ sudah, ‘telah’, ‘rampung’ selesai’ bersama verba aktivitas dan statis. Dalam BI dengan menggunakan terjemahannya. &lt;br /&gt;(10). Duratif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas duratif menggambarkan situasi yang berlangsung dalam kurun waktu yang terbatas. Ciri yang menandainya adalah keterbatasan waktu. Makna aspektualitas ini dala BJ dapat diamati, antara lain, pada penggunaan adverbia durasi sedhela’ sebentar’ sawetara wektu’ beberapa saat, sakjam ‘satu jam’ atau pemarkah frasa adverbia durasi sasuwene’selama’, sedangkan dalam BI makna ini dapat diamati dalam penggunaan sebentar, sejenak, satu jam, atau selama. &lt;br /&gt;(11). Intensif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas intensif menggambarkan situasi yang menggambarkan secara intensif sehingga diperoleh hasil tertentu. Makna ini dalam BJ nampaknya hanya dapat melalui konteks tertentu, tetapi makna ini dalam artian umum dapat pula diamati, antara lain, pada penggunaan adverbial tipe terus-terusan ‘terus menerus’ dan tanpa kendhat ‘tak henti-hentinya. Sedangkan dalam BI hanya terjemahan dari BJ.&lt;br /&gt;(12). Atenuatif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas ini menggambarkan situasi yang berangsung tidak sepenuhnya. Alakadarnya dalam intensitas yang lemah. Dalam BJ antara lain dapat diamati  pada penggunaan verba reduplikasi dengan dasar verba statis, dan verba aktivitas tipe lungguh-lungguh’ duduk-duduk’, ngombe-ngombe’ minum-minum, dan ngomong-ngomong. &lt;br /&gt;(13). Diminutif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas ini menggambarkan situasi yang keberlangsungannya mengandung makna agak atau melakukan sedikit. Dalam BJ dapat diamati pada verba reduplikasi dengan dasar verba statif, seperti isin-isin ‘malu-malu’, dan mumet-mumet’ pusing-pusing’. &lt;br /&gt;(14) Finitif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas ini menggambarkan situasi yang berakhir tanpa indikasi ketercapaian hasil atau tanpa disertai hasil. Dalam BJ dapat diungkapkan dengan kata batal’batal’, wurung’urung’ dan sebagainya.&lt;br /&gt;(15). Komitatif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas ini menggambarkan situasi yang merupakan pengantar situasi lain, misalnya ‘mengetuk-ngetuk’ ketika melakukan sesuatu. Bersiul-siul untuk mengiringi sesuatu. Dalam BJ dapat digunakan pemakaian konjungsi karo’ sambil’, dan sinambi’ sambil’, ‘seraya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reduplikasi yang akan dibahas dalam makalah ini adalah reduplikasi yang dalam morfemisnya berfungsi mengungkapkan makna aspektualitas. Tugas pengungkapan makna aspektualitas ini pada umumnya diemban oleh reduplikasi verba atau verba reduplikatif. &lt;br /&gt;Berkenaan dengan pengertian reduplikasi, Moeliono (1988:166) memberikan batasan reduplikasi adalah proses pengulangan kata, baik secara utuh maupun sebagian. Sedangkan Kridalaksana (1983: 143) mengatakan bahwa reduplikasi adalah proses dan hasil pengulangan  satuan bahasa sebagai alat fonologis atau gramatikal, misalnya rumah-rumah, tetamu, dan bolak-balik. &lt;br /&gt;Secara garis besar reduplikasi dapat diklasifikasikan mencadi dua macam bentuk, yakni reduplikasi utuh dan reduplikasi sebagian (Sumarlam, 2004: 143). Reduplikasi utuh dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah “Dwilingga” (DL). Bentuk reduplikasi ini dapat diklasifikasikan lagi menjadi bagian:&lt;br /&gt;a. Reduplikasi utuh atau DL dengan tidak disertai perubahan vokal, seperti &lt;br /&gt;Celuk  celuk-celuk  ‘panggil-panggil’.&lt;br /&gt;Lungguh  lungguh-lungguh ‘duduk-duduk’.&lt;br /&gt;Teka  teka-teka ‘datang-datang’.&lt;br /&gt;Contoh kalimat;&lt;br /&gt;(1). Sarman wis suwe celuk-celuk, ning orak ono sing semau. &lt;br /&gt;      Sarman telah lama memanggil-manggil, tapi tidak ada yang menyahut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Pak wawan lan pak Yappi podho lungguh-lungguh wae ning emperan omah.&lt;br /&gt;      Pak wawan dan Pak Yappi sedang duduk-duduk saja di pelataran rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3). Bu Dwi wis dienteni suwe kok durung teka-teka.&lt;br /&gt;      Bu Dwi sudah ditunggu lama kok belum datang-datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Reduplikasi utuh dengan disertai perubahan bunyi vokal atau disebut “dwilingga salin swara” (DLS). Sementara itu, Poejosoedarmo (1981: 1231) menyebutnya dengan dwilingga salin suara . DLS ialah proses perulangan di dalam bahasa Jawa yang dibentuk dengan mengulangi seluruh bagian kata dasar disertai dengan perubahan bunyi vokal kata dasar itu.&lt;br /&gt;Watuk  wotak-watuk  ‘ berkali-kali batuk’&lt;br /&gt;Celuk  celak-celuk  ‘ berkali-kali memanggil’&lt;br /&gt;Tangi  tonga-tangi  ‘ berkali-kali bangun’.&lt;br /&gt;Contoh kalimat;&lt;br /&gt;(1). Pak John nek wis bengi wotak-watuk wae.&lt;br /&gt;Pak John kalau sudah malam batu sering batuk-batuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (2). Aja celak-celuk wawan ning kene, dheweke lagi sinau.&lt;br /&gt;       Jangan memanggil-manggil wawan di sini, ia sedang belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (3).  Anake mbak Dwi lagi loro, nek turu tonga-tangi.&lt;br /&gt;        Anak Mbak Dwi sedang sakit, kalau tidur sering bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh di atas adalah contoh reduplikasi yang dibentuk dari kata dasar watuk, celuk, dan tangi dengan cara mengubah bunyi vokal [u] menjadi [a], [a] menjadi [o], [u] menjadi [a] dan bunyi [I] menjadi [a] dan [a] menjadi [o] pada kata dasar. &lt;br /&gt;c. Reduplikasi jenis a dan b dengan disertai nasal seperti:&lt;br /&gt;Tiba  niba   niba-niba ‘dengan sengaja menatuhkan diri’.&lt;br /&gt;Sambet nyamber nyamber-nyamber ‘ menyambar-nyambar’.&lt;br /&gt;Pijet  mijet   mijet-mijet    ‘memijat-mijat’&lt;br /&gt;Tutup nutup nutup-nutup  ‘berkali-kali menutup.&lt;br /&gt;Reduplikasi sebagian, dalam BJ disebut dengan istilah “dwipurwa” (DP) jika yang diulang suku kata depan atau “dwiwasana” (DW) jika yang diulang suku kata bagian belakang.&lt;br /&gt;a. Reduplikasi sebagian dari suku kata depan atau DP mengalami perubahan bunyi vokal, selain vokal [], yaitu [u], [a], [i], [ ], [o], dan [e] berubah menjadi [], sedangkan kata yang suku kata pertamanya bervokal  [] tidak mengalami perubahan. Contoh:&lt;br /&gt;1. vokal [u], [a], [i] berubah  menjadi []:&lt;br /&gt;Tuku  tutuku  tetuku [t tuku] ‘membeli’ &lt;br /&gt;Sambat  sasambat sesambat [ssambat]’ merintih-rintih’ &lt;br /&gt;Siram sisiram  sesiram [sseiram] ‘ menyiram’&lt;br /&gt;b. Reduplikasi sebagian dari suku kata bagian belakang atau DW, pada umumnya disertai sufiks-an, misalnya:&lt;br /&gt;Cekikik  cekikik-cekikik cekikik+an cekikikan ‘tertawa kecil’&lt;br /&gt;Cekak  cekakakcekakak-cekakak  cekakak+ancekakakan‘tertawa lebar’&lt;br /&gt;Dremil dremimil ‘banyak memberi nasehat’ (karena perasaan khawatir)&lt;br /&gt;Cenang cenanangcenanang-cenanangcenanang+ancenanangan ‘berjalan dengan mata liar’&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk reduplikasi di atas dapat disertai afiks-afiks tertentu atau mengalami penambahan afiks (reduplikasi berkombinasi dengan afiksasi), misalnya:&lt;br /&gt;Perang   perang-perang+an perang-perangan‘berpura-pura berperang’&lt;br /&gt;Dodol  dodol-dodol+andodol-dodolan ‘berpura-pura berjualan’&lt;br /&gt;Antem antem-antem+anantem-anteman ‘berpura-pura memukul’&lt;br /&gt;3.1. Reduplikasi verba bermakna Iteratif&lt;br /&gt;Makna iteratif (“keberulang-ulangan, keberkali-kalian, “ pluraritas tindakan’, “kualitas tindakan repetitif”) terdapat pada verba reduplikatif dengan D sebkelas verba pungtual nuthuk ‘memukul’, watuk ‘batuk’, dhehem ‘berdehem’, manthuk ‘mengangguk’, nothok ‘mengetuk’, keplok ‘bertepuk tangan, dsb, yang dapat ditafsirkan ‘berkali-kali melakukan apa yang disebutkan oleh bentuk dasarnya (D). jadi verba reduplikatif berikut bermakna iteratif;&lt;br /&gt;Nuthuk-nuthuk  ‘berkali-kali memukul’&lt;br /&gt;Watuk-watuk  ‘berkali-kali batuk’&lt;br /&gt;Dhehem-dhehem ‘berkali-kali dhehem’.&lt;br /&gt;Contoh kalimat;&lt;br /&gt;(1). Pak guru nuthuk-nuthuk mejo mergo bocah-bocah podho rame.&lt;br /&gt;      Pak guru memukul-mukul meja karena anak-anak sedang ramai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Aku mau krungu dheweke watuk-watuk.&lt;br /&gt;      Aku tadi mendengar dia batuk-batuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3). Kae, Fandi dhehem-dhehem mergo lagi kepethuk pacare.&lt;br /&gt;      Itu, Fandi dhehem-dhehem karena sedang ketemu pacarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ke dalam kelompok verba reduplikatif ini termasuk D subkelas verba pungtual yang mengalami proses pengulangan “dwilingga salin swara” (DLS) seperti:&lt;br /&gt;Nyelak-nyeluk  ‘berkali-kali memanggil’&lt;br /&gt;Nutap-nutup  ‘berkeli-kali menutup’&lt;br /&gt;Mbengak-mbengok ‘berkali-kali berteriak’&lt;br /&gt;Verba reduplikatif bentuk dwilingga berikut juga bermakna iteratif:&lt;br /&gt;Ngidak-idak  “ menginjak-injak’&lt;br /&gt;Ngethok-ngethok ‘ memotong-motong’&lt;br /&gt;Nyamber-nyamber ‘menyambar-nyambar’&lt;br /&gt;Contoh kalimat dari dua kata di atas;&lt;br /&gt;(1). Kae, adhimu mbengak-mbengok nyeluki kue.&lt;br /&gt;      Itu, adikmu berteriak-teriak memanggil-manggil kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Manuk Gagak kae nyamber-nyember golek mangsa.&lt;br /&gt;       Burung Gagak itu menyambar-nyamber mencari mangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Reduplikasi verba bermakna kontinuatif.&lt;br /&gt;Makna kontinuatif (“terus-menerus”, “kualitas tindakan berkesinambungan”) terdapat pada verba reduplikasi dengan D subkelas verba aktivitas tuku ‘membeli’, mlaku ‘berjalan, menjadi nenuku ‘terus-menerus membeli, mlaku-mlaku ;terus-menerus berjalan, dsb yang menggambarkan situasi tunggal yang berlangsung secara berkepanjangan. Makna demikian dapat ditafsirkan dengan terus-menerus atau lama melakukan perbuatan yang disebutkan oleh D. jadi, mlaku-mlaku ‘berjalan-jalan’, misalnya dapat ditafsirkan dengan terus menerus /lama (melakukan perbuatan) berjalan atau terus-menerus/lama berjalan dan tidak mungkin ditafsirkan ‘berkali-kali berjalan. &lt;br /&gt;Termasuk ke dalam kelompok verba reduplikatif jenis ini ialah:&lt;br /&gt;eling  ngeling-eling ‘terus-menerus mengingat’&lt;br /&gt;elus  ngelus  ngelus-elus  ‘terus menerus membelai’&lt;br /&gt;guyu ngguyu ngguyu-ngguyu ‘terus menerus tertawa’&lt;br /&gt;Contoh kalimat;&lt;br /&gt;(1). Bu Erna ngelus-elus rambute Wulan kebak rasane trenyuh.&lt;br /&gt;      Bu Erna terus-menerus membelai rambut Wulan dengan perasaan haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Dheweke ngeling-eling kedadean kang mentas bae dialami.&lt;br /&gt;      Dia terus-menerus mengingat kejadian yang baru saja dialami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3). Maimun nek kepethuk Dewi musti ngguya-ngguyu.&lt;br /&gt;      Maimun kalau ketemu Dewi mesti ketawa-tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Reduplikasi Verba bermakna duratif-atenuatif&lt;br /&gt; Makna atenuatif (ketidaktentuan tujuan tindakan, tanpa tujuan yang sebenarnya, kualitas tindakan santai) terdapat pada verba reduplikatif dengan D subkelas verba statis tipe lungguh-lungguh’ duduk-duduk’, turu-turu ‘tidur-tidur’, dan sub kelas verba aktivitas tipe mlayu-mlayu ‘berlari-lari’, dolan-dolan ‘bermain-main, ngobrol-ngobrol ‘berbincang-bincang’, ngombe-ngombe ‘minum-minum’, dsb yang dapat ditafsirkan dengan tidak sungguh-sungguh melakukan. Dari segi makna aspektualitas tafsiran di atas cenderung bermakna duratif sebab perbuatan yang bermakna atenuatif sebenarnya menggambarkan situasi yang berlangsung dalam waktu tertentu/terbatas. &lt;br /&gt;Lungguh-lungguh ‘tidak dengan sungguh-sungguh duduk’&lt;br /&gt;Turu-turu  ‘tidak dengan sungguh-sungguh tidur’&lt;br /&gt;Dolan-dolan  ‘bermain-main tanpa tujuan yang jelas’&lt;br /&gt; Verba reduplikatif bentuk dwipurwo (DP), berkombinasi dengan afiks (sufiks-an) (DP-an) berikut ini juga menyatakan ‘ketidaktentuan tujuan’ (atau jika mempunyai tujuan, perbuatan itu dilakukan dengan santai atau sekadar untuk mencari kepuasan saja), misalnya:&lt;br /&gt;Teturon ‘ tiduran’ (dilakukan dengan santai untuk mencari kepuasan) &lt;br /&gt;Tetembangan ‘bernyanyi-nyanyi’ (untuk mencari kepuasan)&lt;br /&gt;Jejogetan ‘ menari-nari’ (untuk mencari kepuasan)&lt;br /&gt; Ke dalam kelompok ini termasuk verba reduplikatif yang cenderung bernuansa arti kepura-puraan, misalnya:&lt;br /&gt;Turu-turunan ‘tidur-tiduran’&lt;br /&gt;Dodol-dodolan ‘ berpura-pura jualan’&lt;br /&gt;Perang-perangan’ berpura-pura perang’&lt;br /&gt;Berikut ini adalah contohnya:&lt;br /&gt;(1). Ana saweneh karyawan sing ana ing kantor mung lunggah-lungguh wae.&lt;br /&gt;      Ada sebagian karyawan yang berada di kantor hanya duduk-duduk saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Dheweke mrana-mrene mung dolan-dolan wae.&lt;br /&gt;      Dia ke sana ke mari hanya bermain-main saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3). Saben esuk, aku turu-turu wae kok.&lt;br /&gt;      Setiap pagi, aku tidur-tidur aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4). Sinambi teturon leyeh-leyeh ana ing lincak utawa amben, padha nglegakake ura-ura tembang dhandhanggula, sinom, megatruh, lan sapananggulangane.&lt;br /&gt;       Sambil tidur-tiduran (dengan santai) di balai-balai, mereka memuaskan (denga cara) menyenyikan tembang dhandhanggula, sinom, megatruh, dan sejenisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5). Si Arif tetembangan kidung lirik kanti swara sing ulem. &lt;br /&gt;      Si Arif menyanyikan (dengan santai untuk mencari kepuasan) kidung secara pelan dengan suara merdu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6). Dene Si begijil sabalane awan bengi jejogedan seneng-seneng.&lt;br /&gt;      Adapun Si begijil dan kawan-kawannya siang malam menari-nari bersenang-senang&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Reduplikasi verba bermakna duratif-diminutif &lt;br /&gt; Makna diminutif (ala kadarnya, agak) terdapat pada verba reduplikatif dengan D subkelas verba statif, seperti isin-isin ‘malu-malu’, mumet-mumet ‘pusing-pusing’, wedi-wedi ‘takut-takut’, gatel-gatel ‘gatal-gatal’ yang dapat ditafsirkan sedikit mengalami apa yang disebutkan oleh D atau sedikit D atau agak D. Tafsiran demikian lebih tepat diidentifikasi sebagai bermakna duratif dari pada makna aspektualitas lainnya, sehingga secara teknis dapat disebut “aspektualitas duratif-diminutif. Jadi verba reduplikasi berikut bermakna duratif-diminutif:&lt;br /&gt;Isin-isin ‘sedikit/agak malu’&lt;br /&gt;Mumet-mumet ‘ sedikit/agak pusing’&lt;br /&gt;Wedi-wedi ‘sedikit/agak takut’.&lt;br /&gt;Berikut adalah contoh-contohnya:&lt;br /&gt;(1). Maimun ijeh isin-isin  nek ngomong karo Dewi.&lt;br /&gt;     Maimun masih sedikt malu kalau berbicara dengan Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Senajan mumet-mumet aku ya tetep teka.&lt;br /&gt;      Meskipun adikit/agak pusing saya tetap datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3). Dewheke isih wedi-wedi ing babagan iku.&lt;br /&gt;       Dia masih agak takut dalam hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Reduplikasi Verba bermakna Iteratif Resiprokatif&lt;br /&gt;Makna resiprokatif (“saling”, “resiprokal”) terdapat pada D subkelas verba pungtual, aktivitas, dan statis tipe antem-anteman ‘saling memukul’, jiwit-jiwitan ‘saling mencubit’, adhep-adhepan ‘berhadap-hadapan’, dsb yang dapat ditafsirkan dengan saling memberi/melakukan apa yang disebutkan oleh D.&lt;br /&gt; Pada kata tipe antem-anteman ‘pukul memukul’, saling memukul;, misalnya, terkandung pengertian bahwa perbuatan yang dilakukan secara berbalasan (bentuk kesalingan) itu dilakukan beberapa kali atau bahkan berkali-kali, yang jelas tidak hanya sekali. Dari segi sematis aspektualitas, reduplikasi verba bermakna resiprokatif  termasuk ke dalam makna iteratif. Dengan demikian, makna aspektualitasnya disebut aspektualitas iteratif resiprokatif, yakni makna aspektualitas iteratif bernuansa resiprokal. , seperti:&lt;br /&gt;Antem-anteman ‘saling memberi pukulan’&lt;br /&gt;Jiwit-jiwitan ‘saling mencubit’&lt;br /&gt;Adhep-adhepan  ‘saling berhadapan’&lt;br /&gt;Berikut contoh kalimatnya:&lt;br /&gt;(1). Mahasiswa Teknik lan Fisip UNM antem-anteman sakwuse lomba Badminton ing Jakarta.&lt;br /&gt;      Mahasiswa teknik dan fisip saling pukul-pukulan setelah lomba bulutangkis di Jakarta.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;(1). Maimun lan Dewi padha jiwit-jiwitan ana ing kelas.&lt;br /&gt;      Maimun dan Dewi saling cebut-cubitan di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Masyarakat Tim-tim pecah dadi 2 blok/golongan, pro integrasi adhep-adhepan  karo pro-kamardhikan Tim-Tim.&lt;br /&gt;     Masyarakat Tim-Tim terpecah menjadi dua kelompok/golongan, pro integrasi berhadap-hadapan dengan pro-kemedekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Reduplikatif Verba bermakna Habituatif.&lt;br /&gt; Makna habituatif (“kebiasaan’, “kesukaan”) terdapat pada verba reduplikasi dengan D subkelas verba aktivitas tipe njaluk ‘meminta’ yang mengalami proses pengulangan atau DP menjadi jejaluk ‘meminta-minta’, proses pengulangan DP tipe seperti itu juga tampak pada bentuk verba sebagai berikut:&lt;br /&gt;Nyolong  ‘mencuri’  nyenyolong&lt;br /&gt;Mbegal ‘menyamun’ mbebegal&lt;br /&gt;Ngrampok ‘merampok’ ngrerampok&lt;br /&gt;Njarah ‘menjarah’ nggegawa&lt;br /&gt; Makna dari bentuk demikian dapat ditafsirkan dengan ‘biasa’, suka, seperti yang disebutkan oleh D. Dengan demikian, verba reduplikasi berikut bermakna:&lt;br /&gt;Njejaluk ‘biasa/suka meminta-minta’&lt;br /&gt;Nyenyolong ‘biasa/suka mencuri’&lt;br /&gt;Mbebegal ‘biasa/suka menyamun’&lt;br /&gt;Ngrerampok ‘biasa/suka merampok’&lt;br /&gt; Termasuk ke dalam kelompok ini adalah verba reduplikatif dengan D subkelas verba statis seperti dibawah ini:&lt;br /&gt;Nyenyimpen ‘biasa/suka menyimpan’&lt;br /&gt;Nyenyilih ‘biasa/suka meminjam’&lt;br /&gt;Contoh kalimat:&lt;br /&gt;(1). Uwong kuwi kudu sregep, aja njejaluk.&lt;br /&gt;      Orang itu harus rajin, jangan meminta-minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Kraman sing dimanggalani si Jaka ngrerampok..&lt;br /&gt;      Pembrontak yang dipimpin Si Jaka suka merampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7. Reduplikasi Verba Bermakna Ingresif&lt;br /&gt; Makna aspektualitas ingresif terdapat pada verba reduplikatif dengan D subkelas punktual, statis, dan statis yang mengalami proses pengulangan DL. Verba reduplikatif ini menyatakan arti ‘begitu D’ atau baru saja D’. D subkelas verba pungtual:&lt;br /&gt;tangi ‘bangun’  tangi-tangi ‘begitu/baru saja bangun’&lt;br /&gt;teka ‘datang’  teka-teka ‘begitu/baru saja datang’&lt;br /&gt;D subkelas verba statis seperti:&lt;br /&gt;Krungu ‘mendengar’  krungu-krungu ‘begitu/baru saja mendengar’&lt;br /&gt;Merem ‘terpejam’ merem-merem ‘begitu/baru saja terpejam’.&lt;br /&gt;Bentuk reduplikasi tersebut dapat diparafrasa dengan lagi wae D ‘baru saja D’, atau D dhog ‘begitu D’ (khusus untuk teka ‘datang’). Bentuk perafrasa dengan makna perfektif  dan urutan dua kejadian /peristiwa  itu dapat diamati  contoh berikut:&lt;br /&gt;(1).  Tangi-tangi terus nangis. &lt;br /&gt;       Begitu bangun terus menangis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Lagi wae tangi terus nangis.&lt;br /&gt;      Baru saja bangun terus menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3). Teka-teka terus turu.&lt;br /&gt;      Datang-datang terus tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4). Teka dhog terus turu.&lt;br /&gt;        Begitu datang terus tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.8. Reduplikasi Verba Bermakna Kontinuatif-Intensif&lt;br /&gt; Makna intensif (penekanan, kesungguhan, intensitas) terdapat pada verba reduplikatif  dengan sub-kelas verba aktivitas bentuk DP, seperti memuji ‘memuja’, ndedongo ‘berdoa, nenepi ‘bertapa’ atau bentuk dwiwasana (DW), seperti ndremimil ‘berkata banyak/menasihati (dengan sungguh-sungguh)’. Kata ndedonga ‘maknanya dapat ditafsirkan ‘terus menerus berdoa secara sungguh-sungguh (dengan kesungguhan). &lt;br /&gt; Situasi atau perbuatan yang berlangsung secara terus menerus dalam waktu relatif lama adalah situasi yang menggambarkan makna aspektualitas kontinuatif. Oleh karena itu, secara semantis aspektualitas, situasi demikian itu disebut ‘aspektualitas kontinuatif dengan nuansa intensif.    &lt;br /&gt; Di samping reduplikasi bentuk DP dan DW, bentul DL  yang didahului dengan kata ingkar seperti ora teka-teka ‘tidak kunjung datang’, ora metu-metu ‘tidak kunjung keluar, dan durung bali-bali ‘belum juga kembali’ juga dapat menyatakan makna intensitas. &lt;br /&gt;Ora teka-teka ‘tidak kunjung datang’&lt;br /&gt;Ora metu-metu ‘tidak kunjung keluar’&lt;br /&gt;Berikut adalah contoh Kalimatnya:&lt;br /&gt;(1). Rewangana memuji supaya adhime enggal waras.&lt;br /&gt;      Bantulah berdoa agar adikmu cepat sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Aja kendhat olehmu dhedonga supaya Kabul penyuwunmu.&lt;br /&gt;      Jangan (sekalisekali kamu) berhenti berdoa agar terkabul permohonanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3). Dheweke ngumbara banjur nenepi ing gunung-gunung lan guwo-guwo.&lt;br /&gt;      Ia mengembara lalu bertapa di gunung-gunung dan goa-goa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4). Dienteni kawet mau ora teka-teka.&lt;br /&gt;     Ditunggu dari tadi tidak kunjung datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5). Diundang bola-bali ora metu-metu.&lt;br /&gt;      Dipanggil berkali-kali tidak kunjung keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Simpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, reduplikasi dapat diklasifikasikan menjadi dua macam bentuk, yakni reduplikasi utuh, dan reduplikasi sebagian. Reduplikasi utuh dalam bahasa Jawa disebut dengan reduplikasi dwilingga (DL), sedangkan reduplikasi sebagian disebut dwipurwa (DP) jika yang diulang suku kata depan atau dwiwasana (DW) jika yang diulang suku kata bagian belakang.&lt;br /&gt;Pengungkapan makna aspektualitas BJ pada tataran morfologi melalui reduplikasi meliputi makana iteratif (berulang-ulang), kontinuatif (terus menerus), duratif atenuatif (berlangsung dalam durasi tertentu dengan nuasa ketidaktentuan), duratif diminutif (berlangsung dalam durasi tertentu dengan nuansa diminutif, iteratif resiprokatif (berulang-ulang dengan nuansa saling), habituatif (biasa, suka), ingresif (begitu, baru saja), dan kontinuatif intensif (terus-menerus berkesinambungan dengan nuansa intensif, sungguh-sungguh).&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alwi, Hasan. 1992. Modalitas Dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki, Rokhmat.2000. Verba(l)-I dan verba(l)-ake Bahasa Jawa: Kajian Struktur dan Semantik”. Tesis Universitas Padjajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Comrie, Bernard. 1981. Aspect: an Introduction to the Study of Verbal Aspect and Related Problems. Cambridge: Cambridge University Press. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djayasudarma, T. Fatimah. 1985. Aspek, Kala Adverbial Temporal, dan Modus”. Dalam Bambang  Kaswanti Purwo. (ed). Untaian Teori Sintaksis 1970-1980-an. Jakarta: Arcan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moeliono, Anton M. et al.1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Cet.1 Jakarta: Balai pustaka.&lt;br /&gt;Poejosoedarmo, Gloria, Wedhawati, Laginem. 1981. Sistem Perulangan dalam Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudaryanto dkk. 1992. Tata Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumarlam. 2004. Aspektualitas Bahasa Jawa Kajian Morfologi dan Sintaksis. Surakarta: Pustaka Caraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjuddin, Moh. 1993. Pengungkapan Makna Aspektualitas Bahasa Rusia dalam Bahasa Indonesia: Suatu Telaah Tentang Aspek dan Aksionalitas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------- 2005. Aspektualitas Dalam Kajian Linguistik. Bandung: PT. Alumnni.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-5420230864260661936?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/5420230864260661936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=5420230864260661936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/5420230864260661936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/5420230864260661936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2009/02/pengungkapan-makna-aspektualitas.html' title='PENGUNGKAPAN MAKNA ASPEKTUALITAS                                                                     REDUPLIKASI DALAM BAHASA JAWA: KAJIAN MORFOLOGI'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-989190192364230888</id><published>2009-02-23T22:40:00.000-08:00</published><updated>2009-04-16T01:13:50.732-07:00</updated><title type='text'>Mantra: Kedudukan dan Fungsinya dalam Masyarakat</title><content type='html'>Ahdi Riyono, S.S., M.Hum&lt;br /&gt;(Pemerhati Budaya Jawa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra merupakan salah satu jenis sastra lisan yang berkaitan dengan tradisi masyakat Jawa. Sebagai sastra lisan, mantra merupakan salah satu bentuk kebudayaan daerah yang diwariskan dari mulut ke mulut. Mantra sendiri digolongkan ke dalam jenis puisi karena bentuknya yang tetap dan bersajak. Mantra juga merupakan warisan yang turun temurun. Konon dalam masyarakat tradisional, sebuah mantra memiliki kekuatan gaib (daya magis). Dengan mantra ini, alam pikiran manusia berhubungan dengan hal-hal supernatural sehingga dengan membaca mantra itu, sesuatu yang tidak mungkin terjadi dapat menjadi kenyataan. &lt;br /&gt;Mantra  menurut Hasan Shadily dalam Ensiklopedia Indonesia Jilid 4 (1983) adalah rumusan kata-kata atau bunyi yang berkekuatan gaib, diucapkan berirama seperi senandung, digunakan sebagai doa bagi pengucap atau pendengar, yang wajid dihafal tepat kata-katanya untuk menghindari bencana jika terjadi kekeliruan dalam mengucapkannya. Pada umumnya, mantra diucapkan dengan menyeru atau menyebut Allah, nabi-nabi, aulia, arwah cikal bakal atau bunyi kata yang tidak bermakna, seperti hong wilaheng dan lain-lain. Fungsi mantra dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit mendatangkan kebaikan dan celaka, mengusir harimau, mengusir hantu dan sebagainya. &lt;br /&gt;Perbedaan mantra dengan doa menurut Fischer (1980) adalah doa diucapkan dalam rangka kegiatan magis. Doa diucapkan dengan suara keras dan susunan kata-katanya berirama sehingga lebih mudah dihafal dan diingat. Di dalam mantra biasanya terkandung kata-kata yang dirasakan mempunyai daya magis. Kata mantra sering juga dihubungkan dengan japa dan japamantra. Mantra dilafalkan dengan pelan-pelan, bahkan hanya diucapkan dalam batin. Di dalam mantra juga terkandung pesan, sugesti, larangan yang menuju ke suatu titik mistik. Utamanya ke arah memayu hayuning bawana, agar tercipta keindahan dan harmoni manusia dengan sesama, alam semesta dan Tuhan. &lt;br /&gt;macam-macam Mantra&lt;br /&gt;Adapun pembagian jenis mantra ada yang membagi kedalam dua macam saja, yaitu hitam dan putih. Namun bagi masyarakat Jawa Timur khususnya orang using membagi menjadi empat, yaitu magi, (1) hitam (2) merah, (3) kuning, dan (4)  putih (Kusnadi, 1993) (Saputra, 2001).&lt;br /&gt;Mantra magi hitam, yaitu mantra yang dijiwai oleh nilai-nilai kejahatan dan digunakan untuk tujuan kejahatan. Magi hitam ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan korbannya meninggal dunia. Contoh magi hitam adalah bantal nyawa, bantal kancing, cekek, sebul dan setan kubur. &lt;br /&gt;Mantra magi merah ialah mantra  yang pemakaiannya tidak dilandasi hati nurani, tetapi didorong untuk memenuhi hawa nafsu dengan tujuan agar korban tersiksa batin dan fisiknya. tetapi tidak sampai berakibat fatal sebagaimana pada mantar hitam. Yang tergolong magi merah adalah jaran goyang, siti henar, semut gatel, bantal guling, gombal kobong, dan polong dara. &lt;br /&gt;Mantra magi kuning ialah mantra yang penggunaannya didasari atas ketulusan hati dan maksud baik; biasanya hanya terbatas pada hubungan antar individu. Penggunaan mantra ini bukan hanya disenangi atau dicintai sesama manusia, tetapi juga termasuk binatang. Yang tergolong magi ini antara lain; sabuk mangir, si gandrung mangu-mangu, semar mesem, ambar sari, si kumbang jati, tes putih-tes abang. &lt;br /&gt;Mantra magi putih ialah mantra yang dijiwai oleh nilai-nilai kebaikan dan digunakan untuk tujuan kebaikan. Mantra ini berfungsi untuk menetralisasi praktik mantra magi hitam dan merah., baik untuk penyembuhan, maupun penolak bala. Yang tergolong mantra magi ini adalah semua mantar yang digunakan untuk penyembuhan atau pengobatan dan pencegahan atau penolak bala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Mantra&lt;br /&gt;Mantra sebagai salah satu bentuk folklor mempunyai empat fungsi, salah satunya adalah sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Dalam konteks ini, pranata dimaknai sebagai sistem tingkah laku sosial yang bersifat resmi beserta adat istiadat dan sistem norma yang mengaturnya., serta seluruh perlengkapannya. guna memenuhi berbagai kompleks kebutuhan manusia dalam kehidupan. &lt;br /&gt;Setiap tradisi memiliki pranata sosial sendiri sesuai konteks dinamika budaya yang bersangkutan. Menurut Herusatoto (1985), setiap tradisi atau adat istiadat mempunyai empat tingkatan, yakni: (1) tingkat nilai budaya, (2) tingkat norma-norma, (3) tingkat hukum, (4) tingkat aturan khusus. &lt;br /&gt;Tujuan pemanfaatan mantra merupakan bentuk kompensasi dari ketidakberdayaan orang memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari  dengan menggunakan pranata formal. Oleh karena pranata formal tidak mampu menampung konflik-konflik dalam masyarakat, kompensasinya muncul pranata-pranata sosial tradisional yang mampu menyelesaikan konflik-konflik tersebut dengan karakternya masing-masing.  (positif-negatif). Hal tersebut akhirnya membudaya dan bahkan diwariskan kepada generas penerus. Hal ini sesuai dengan pendekatan psikologitik yang dinyatakan oleh Sutardja (1996) bahwa secara naluriah suatu kelompok etnik telah memiliki mekanisme dalam menghadapi dan memecahkan problema-problema sosial budaya yang diwarisi dari nenek moyangnya. Implikasinya dari relevansi secara psikologis ini ialah bahwa manusia memerlukan pegangan batin untuk menghadapi masalah-masalah sosial budaya. Bila mekanisme pegangan batin semacam itu macet., semakin berat masalah yang akan dihadapinya. &lt;br /&gt;Dengan demikian, penilaian bijak terhadap potensi mantra tidak seharusnya dilakukan secara normatif hitam-putih, melainkan harus diposisikan dalam moralitas budaya yang kontekstual. &lt;br /&gt;Mantra Putih  Bentuk Kidung&lt;br /&gt; Kidung ialah nyanyian, lagu, atau syair yang dinyanyikan, disebut juga puisi (dalam tembang Jawa). Menurut Zoetmulder (1983:142), kidung adalah sejenis puisi jawa pertengahan yang mempergunakan metrum-metrum asli jawa. Misalnya Kidung rumeksa ing wengi, tembang Dandhanggula. Kidung mantra ini diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Karena kedekatannya dengan rakyat membuat Sunan Kalijaga sering dimintai pertolongan untuk mengobati orang sakit, dimintai doa-doa dan tolak bala. Kemudian Sunan Kalijaga memberi mereka doa (mantra) berupa Kidung Rumeksa Ing wengi.(Hariwijaya, 2007).&lt;br /&gt; Inti laku pembacaan mantra ini adalah agar kita senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian, kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman, dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. &lt;br /&gt; Mengenai Fungsi kidung secara eksplisit tersurat dalam kalimat kidung itu, yang antara lain: penyembuhan segala macam penyakit, pembebas pageblug, mempercepat jodoh bagi perawan tua, penolak bala di malam hari, seperti teluh, santet, hama, dan pencuri, menang dalam perang, memperlancar cita-cita luhur dan mulia. &lt;br /&gt;Kidung ini terdiri atas sembilan bait yang disertai laku dan fungsi pragmatisnya secara spesifik. Bagian pertama terdiri dari lima bait yang wajib diamalkan setiap malam. Bagian kedua, terdiri dari empat bait berupa petunjuk menyertai laku dan wajib dilaksanakan oleh setiap orang yang mengamalkannya. Berikut contoh kutupan sebagian mantra Kidung Rumeksa Ing Wengi; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kidung Rumeksa Ing Wengi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana kidung rumeksa in wengi&lt;br /&gt;Tuguh ayu luputa in lelara&lt;br /&gt;Lututa billahi kabeh&lt;br /&gt;Jim setan datan purun&lt;br /&gt;Paneluh tan ana wani&lt;br /&gt;Miwah panggawe ala&lt;br /&gt;Gunaning wong luput&lt;br /&gt;geni atemahan tirta&lt;br /&gt;maling adoh tan ana ngarah mring mami&lt;br /&gt;Guna duduk pan Sirna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakabehing lara pan samnya bali&lt;br /&gt;Sakeh ngama pan sami miruda&lt;br /&gt;welas asih pandulune&lt;br /&gt;sakehing braja luput&lt;br /&gt;kadi kapuk tibaning wesi&lt;br /&gt;sakehing wisa tawa&lt;br /&gt;Sato galak lulut&lt;br /&gt;kayu aeng lemah sangar&lt;br /&gt;songing landhak guwaning wong lemah miring&lt;br /&gt;myang pokiponing merak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-989190192364230888?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/989190192364230888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=989190192364230888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/989190192364230888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/989190192364230888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2009/02/mantra-kedudukan-dan-fungsinya-dalam.html' title='Mantra: Kedudukan dan Fungsinya dalam Masyarakat'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-7445365641779429714</id><published>2009-02-23T22:37:00.000-08:00</published><updated>2009-03-23T02:23:05.018-07:00</updated><title type='text'>Kajian Budaya</title><content type='html'>Makna Simbolis Tembang Lir-ilir dan E-dayohe: Karya Sunan Kalijaga&lt;br /&gt;Oleh Ahdi Riyono, S.S., M.Hum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilir-ilir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilir-ilir 2x  tandure wis sumilir&lt;br /&gt;tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar&lt;br /&gt;cah angon2x  penekna blimbing kuwi&lt;br /&gt;lunyu-lunyu ya penekna kanggo masuh dodotira&lt;br /&gt;dodotira2x  kumitir bedhah ing pinggir&lt;br /&gt;dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore&lt;br /&gt;mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane&lt;br /&gt;Suraka surak hore.&lt;br /&gt;(Kanjeng Sunan Kalijaga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perlu diketahui bahwa Sunan Kalijaga (Endraswara, 2003) adalah seorang wali yang melegenda di masyarakat Jawa. Nama Sunan Kalijaga berasal dari kata susuhunan (orang terhormat), qadli (pelaksana, penjaga, pimpinan), dan zaka (membersihkan). Maka, sangat cocock bila tugas Sunan Kalijaga sebagai wali, tak lain menjadi pimpinan untuk menjaga kebersihan umat dari perbuatan batil. Bahkan, ada yang berusaha othak-atik mathuk, kalijaga berasal dari kali (sungai) dan jaga (menjaga), artinya menjaga aliran sungai, yaitu perjalanan atau syiar agama Islam. Dalam tugas dakwah yang berat tersebut, Sunan Kalijaga ternyata mampu menggunakan teknik dakwah secara estetik-sufistik. &lt;br /&gt; Salah satu teknik beliau, menggunakan tembang-tembang. Sebagai contoh, Sunan Kalijaga mengarang tembang menggubah tembang macapat metrum Dhandhanggula. Macapat dapat diartikan cara membaca (melagukan) empat-empat, yaitu perhentian nafas pada empat suku kata-empat suku kata. Macapat bisa juga berasal dari kata “macapat: = man + ca + pat = iman + panca + patokan. Dakwah Islam yang pertama harus memperhatikan Rukun Iman dan Rukun islam (panca) sebagai patokan . Dhandanggula berasal dari dhandhang dan gula yang berati pengharapan akan yang manis. Dakwah Islam yang dibawakan secara enak dan menyenangkan akan membawa harapan untuk menuju kebahagiaan, karena yakin dan percaya akan kebijaksanaan, kemurahan, keagungan, kekayaan, dan keadilan, maha mengetahui kebaikan yang meliputi dari Allah Tuhan Yang Maha Esa. &lt;br /&gt; Salah satunya adalah tembang ilir-ilir. tembang ini merupakan bahan dakwah para wali pada awal perkembangan Islam. Para Wali menggunakan lagu ini sebagai simbol asosiasi penyebaran agama Islam. Melaui tembang ini, ternyata orang jawa lebih simpatis memasuku agama baru, yaitu agama Islam. alunan tembang ynag ritmis dan menarik disertai makna religiusitas, justru mampu mengetuk hati orang jawa, mulai dari rakyat jelata (Wong Cilik) sampai para penguasa kerajaan (Wong Gedhe). Adapun sayir tembang lir-ilir yang saya kutip di atas,  memberikan rasa optimis kepada seseorang yang sedang melakukan amal kebaikan amatl itu berguna untuk bekal di hari akhirat. Kesempatan hidup di dunia itu harus dimanfaatkan untuk berbuat kebajikan, jangan membunuh nanti akan ganti dibunuh karena semua ada balasannya.&lt;br /&gt; Menurut Para ahli tafsir (Hariwijaya, 2007)  tembang ilir-ilir adalah sebagai sarana penyiaran agama Islam secara damai, tanpa paksaan dan kekerasan. Toleransi di dalam menyiarkan agama Islam sangat jelas hingga terjadi asimilasi dan adaptasi antara ajaran Islam dengan ajaran lainnya, sehingga terjadi apa yang disebut culture contact. Adapun makna tembang ini adalah sebagai berikut;&lt;br /&gt; Ilir-ilir, ilir-ilir tandure wis sumilir. Makin subur dan tersiarlah agama Islam yang didakwahkan oleh para wali dan mubaligh Islam. Tak ijo royo-royo taksengguh penganten anyar. Hijau adalah warna dan lambang agama Islam, bagaikan penganten baru. Maksdunya, agama Islam bagitu menarik dan kemunculannya yang baru diibaratkan dengan penganten baru. Warna Hijau sendiri pada waktu itu, juga bendera Kekhilafahan Ustmanih (Turki Otoman) sebagai empirium Islam pada masa itu. &lt;br /&gt; Cah angon-cah angon penekna blimbing kuwi, Cah angon atau penggembala, dibaratkan dengan penguasa yang menggembalakan rakyat. Para penguasa itu disarankan (dianjurkan) untuk segera masuk ke dalam agama Islam, disimbolkan dengan buah belimbing yang mempunyai bentuk segi-lima sebagai lambang rukun Islam. Lunyu-lunyu penekna kanggo masuh dodotira, Walaupun licin, susah, tetapi usahakanlah sekuat tenaga agar dapat masuk Islam demi mensucikan dodot. Dodot adalah jenis pakaian yang sering dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan.&lt;br /&gt; Dodotira, dodotira, kumitir bedhah ing pinggir, pakaianmu, agamamu sudah rusak, karena dicampur dengan kepercayaan animisme. Domdomana jrumatana kanggo seba mengko sore. Agama yang sudah rusak itu jahitlah, perbaikilah sebagai bekal menghadap Tuhan. Mumpung jembar kalangane mumpung padhang rembulane. Mumpung masih hidup masih ada kesempatan untuk bertobat. Suraka Surak hore, bergembiralah, semoga kalian mendapatkan anugerah Tuhan. &lt;br /&gt; Sunan Kalijaga ketika bulan Ramandhan tiba, agar masyarakat menyambut dengan kegembiraan, maka beliau menciptakan sebuah tembang pennyambutan. Berbeda dengan gaya orang sekarang menyambut Bulan Ramandhan dengan untaian kata, Marhaban ya Ramandhan. Tembang ciptaan beliau berupa tembang dolanan (permainan) yang sering dilagukan anak-anak, yaitu E, Dhayohe Teka (E Tamunya Datang) (Endraswara, 2006).  Adapun syair lagunya sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E dhayohe teka e gelarna klasa,&lt;br /&gt;E klasane bedhah,&lt;br /&gt;E tambalen jadah,&lt;br /&gt;E jadahe mambu e pakakna asu,&lt;br /&gt;E asune mati e buwangen kali,&lt;br /&gt;E kaline banjir e buwangen pinggir,&lt;br /&gt;E pinggire lunyu e yo goleka sangu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tembang tersebut memberikan gambaran terhadapt umat Islam bahwa dhayah identik dengan tamu (bulan Ramandhan). Lagu tersebut memberikan gambaran umat islam diharapakn menyambut bulan suci yang penuh berkah ini dengan beberapa cara, yaitu harus siap nggelar klasa (memasang tikar) yang suci, hati suci. Saat ini mulailah membersihkan hati/ menjernihkan pikiran, perasaan, dan keinginan. Agar jangan sampai hati kita bedhah (robek) seperti tikar. Kendatipun hati terpaksa robek, harus diusahakan menambal dengan jadah. Maksudnya, jadah adalah makanan berasal dari ketan, karena jangan sampai di bulan Ramandhan ini raket (dekat) dengan setan, dekatlah dengan Allah, dengan jalan mujahadah dan mukhasabah. &lt;br /&gt; Dhayoh dalam padangan sufisme Jawa, juga bermakna banyi lahir. Bayi itu bersih, suci, belum ternoda. Karena itu, penyambutan bulan Ramandhan juga diharapkan seperti halnay orang sedang mendapatkan anugerah, kelahiran anak, gembira penuh harapan. Untuk itu mereka laksanakan padusan, agar suci bersih. Perasaan sedang ridla, ikhlas, selalu menyertai di dalam hati. &lt;br /&gt; Demikian, gambaran sekelumit cara Kanjeng Sunan Kalijaga mendakwahkan agama Islam dengan estetika yang membuat masyarakat pada waktu berduyun-duyun memeluk agama Islam dengan senang hati, dan tanpa paksaan sedikitpun. Semoga tulisan ini dapat memberikan kita inspirasi agar kita dalam melakukan apapun harus disesuikan dengan situasi dan kondisi kejiwaan masyarakat agar tujuan kita dapat tercapai dengan baik. Wassalam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-7445365641779429714?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/7445365641779429714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=7445365641779429714' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/7445365641779429714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/7445365641779429714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2009/02/engguak-makna-simbolis-tembang-ilir.html' title='Kajian Budaya'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-877508513938962462</id><published>2008-12-08T18:54:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T19:16:35.734-08:00</updated><title type='text'>TEORI FONOLOGI STRUKTURAL</title><content type='html'>TEORI FONOLOGI STRUKTURAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AHDI RIYONO, S.S., M.Hum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar abad ke-17, 18 dan awal abad ke-19 kajian bahasa telah berkembang dari masa ke masa. Pemikiran ahli filsafat bahasa Baudoin de Courteney dan Ferdinand De Saussure banyak mempengaruhi pemikiran dan cara pandang terhadap bahasa.&lt;br /&gt;Sekita tahun 1920 seorang pakar filsafat bahasa T.G. Masaryk dan V. Mathesuis berhasil menyatukan ahli bahasa aliran struktural di kota Praha, Cekoslowakia. Kedua sarjana tersebut memberikan peranan kajian bahasa secara sinkronis (kajian bahasa dalam satu masa) yang pada sebelumnya kajian bahasa diarahkan pada diakronis (Kesejarahan bahasa).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-877508513938962462?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/877508513938962462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=877508513938962462' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/877508513938962462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/877508513938962462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2008/12/teori-fonologi-struktural.html' title='TEORI FONOLOGI STRUKTURAL'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-3227270796229738865</id><published>2008-12-08T18:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T18:45:05.610-08:00</updated><title type='text'>pemakaian bahasa jawa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;PEMAKAIAN BAHASA JAWA DI KABUPATEN KUDUS:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;TINJAUAN SINKRONIS DAN SOSIOLINGUISTIK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ahdi Riyono, Agung Dwi Nurcahyo, Fajar Kartika&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="EN-GB"&gt;INTISARI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Times-Bold;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Times-Bold;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kabupaten Kudus adalah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;daerah di Pantura Jawa Tengah yang memiliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemakaian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;variasi BJ dengan pola yang bervariasi pada masing-masing TP. Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan variasi pemakaian BJKK dengan menggunakan variabel sosial, yaitu dari latar belakang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pendidikan, dan usia penutur BJKK. Dengan mendasarkan diri pada perbedaan desa-kota, data penelitian diambil dari tiga Titik Pengamatan (TP); yaitu Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(TP 1) yang mewakili TP kota, Desa Tergo Kecamatan Dawe diwilayah pengunungan (TP 2), dan Desa Temulus Kecamatan Mejobo &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(TP 3) yang mewakili TP desa wilayah yang bukan pengunungan.. Penggalian data memanfaatkan alat penelitian berupa daftar kata Swadesh (hasil revisi Blust) yang memuat 200 kosa kata dasar baku yang dikembangkan menjadi 450 tanyaan dengan teknik pengumpulan data dengan mencatat dan merekam. Metode observasi-partisipatif dengan menerapkan teknik libat cakap. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis satuan lingual. Untuk melihat variasi digunakan metode padan dengan membandingkan data BJKK dengan Bahasa Jawa Baku (BJB). &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penyajian diuraikan dengan metode formal dan informal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) BJKK memiliki 7 fonem vokal dan 21 fonem kosonan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(2) Pada tataran morfologis disimpulkan terjadi proses afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. (3) Variasi leksikal yang terjadi dalam BJKK menunjukkan gejala beberapa kosa kata yng unik. (4) Variasi tingkat tutur dalam BJKK terjadi pada tingkat tutur &lt;i&gt;ngoko, madya, &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;krama. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;Namun lebih didominasi kosa kata ngoko.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kata-kata kunci &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;: &lt;i&gt;Variasi pemakaian bahasa, Variabel sosial, Variabel geografis desa-kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-3227270796229738865?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/3227270796229738865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=3227270796229738865' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/3227270796229738865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/3227270796229738865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2008/12/pemakaian-bahasa-jawa.html' title='pemakaian bahasa jawa'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-5956060478031149925</id><published>2008-12-06T07:02:00.001-08:00</published><updated>2008-12-06T07:02:58.716-08:00</updated><title type='text'>sosioLINGUSITIK</title><content type='html'>&lt;h2 class="date-header"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt; &lt;div class="post hentry"&gt; &lt;a name="5678871942814820252"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://penakampus.blogspot.com/2008/04/alih-kode-dan-fungsinya-dalam-film.html"&gt;Alih Kode dan Fungsinya Dalam Film Kiamat Sudah Dekat&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; Oleh Ahdi Riyono*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A language is what native speakers say, not what someone thinks they ought to say (Clifford H. Prator, 1980).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bahasa dapat dipastikan memiliki variasi atau ragam bahasa. Hal ini dikarenakan pengguna bahasa atau para penutur bahasa memiliki latar belakang yang beragam. Mereka dapat berasal dari golongan orang tua, dewasa ataupun remaja. Variasi atau aneka kode menurut pemakaiannya merupakan aturan-aturan bahasa yang bersifat sosial yang muncul dalam setiap komunikasi dan tidak mungkin diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pembicaraan ditentukan oleh siapa yang berbicara, dengan siapa, di mana, bilamana, tentang apa, dan dengan sarana/cara apa seseorang itu berbicara. Dalam film ‘Kiamat Sudah Dekat’ yang dibintangi oleh Deddy Mizwar sebagai pak haji, Andre Stinky sebagai Fandy, dan Muhammad Dwiki Reza sebagai Saprol terdapat aneka kode yang digunakan oleh ketiga tokoh tersebut dan karakter lainnya. Mereka mewakili dari golongan tiga generasi orang tua, dewasa, dan Remaja. Dalam berbagai situasi tutur, mereka menggunakan variasi kode yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kajian bahasa yang mengaitkan bahasa dengan faktor-faktor kemasyarakatan atau sosial dikaji dalam sosiolinguistik. Sosiolinguistik termasuk bidang linguistik yang melihat persoalan bahasa sebagai alat komunikasi. Sosiolinguistik melihat bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep tentang kode dalam konteks alih kode tidak sama dengan bahasa. Kode dalam istilah alih kode cocok diberikan pengertian sebagai varian (atau variasi) tertentu dalam suatu bahasa (Kridalaksana, 1983: 86). Pengertian ini sejalan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Wojowasito (dalam Halim(ed), 1981) yang menggunakan istilah kode dengan pengertian yang agak lurus, tidak saja berupa bahasa dan logat, tetapi juga tingkat-tingkat, gaya cerita, dan gaya percakapan. Sedangkan Poejosoedarmo (1978) memberikan definisi kode ialah suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya mempunyai ciri-ciri khas sesuai dengan latar belakang penutur, relasi penutur dengan lawan bicara dan situasi tutur yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, alih kode dapat diartikan sebagai alih varian dalam penggunaan bahasa karena pada waktu berbicara, seseorang pembicara sering mengganti kode bahasanya. Menurut Hudson (1996: 51) alih kode terjadi karena di dalam masyarakat terdapat lebih dari satu bahasa atau variasi yang disebut dengan bilingualisme atau multilingualisme. Setiap individu yang berbicara lebih dari satu bahasa pasti akan memilih diantara bahasa-bahasa itu sesuai dengan kapan bahasa itu digunakan. Masih menurut Hudson (1996: 51) pertimbangan dalam memilih bahasa atau variasi; (1) bahasa atau variasi harus dapat dipahami mitra tutur, (2) disesuaikan dengan aturan sosial (social rules).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian alih kode adalah alih bahasa dengan tujuan mengakomodasikan berbagai macam variasi bahasa: dialek dan register. Alih kode yang demikian menurut Hudson (1996: 52) disebut dengan alih kode situasional, yaitu peralihan kode terjadi bersamaan dengan perubahan situasi eksternal yang dapat diamati. Contoh alih kode situasional seseorang penutur yang sedang berbicara terhadap seseorang O2, dan biasanya, dia pakai bahasa Indonesia. Tiba-tiba saja, karena satu dan lain hal, di ganti bahasa itu dengan bahasa Jawa Krama. Pergantian itu bisa hanya berlangsung satu kalimat lalu pembicaraan kembali lagi ke kode biasanya, yakni bahasa Indonesia (Poedjosoedarmo, 1978:2). Sedangkan peralihan kode yang didasarkan karakteristik situasi eksternalnya tidak atau sulit ditentukan disebut alih kode metaforis (Methaphorical switching) (Blom dan Gumpers 1971 dalam Hudson 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film kiamat sudah dekat merupakan film yang bernuansa edukatif dan religius serta menggambarkan masyarakat multilingual. Dengan demikian, terdapat alih kode dalam hampir setiap pembicaraan. Film ini menggambarkan perjalanan seorang anak muda, seorang musisi rock, rocker, yang sama sekali tidak mengerti masalah agama, ingin mendapatkan seorang wanita muslimah bernama Sarah, putri seorang pak haji/kyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film ini muncul alih kode yang digunakan dalam bertutur oleh para karakter utama yang tentunya mempunyai fungsi dan tujuan kemasyarakatan tertentu. Berikut berberapa jenis alih kode yang muncul:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Alih Kode Bahasa Arab&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Alih kode adalah bentuk peralihan kode dalam percakapan dengan dengan tujuan-tujuan tertentu. Berikut contoh beberapa alih kode yang terdapat dalam Film Kiamat Sudah Dekat; contoh (8) terjadi saat Fandi ketemu pak haji di Mushola setelah sholat Ashar.&lt;br /&gt;(8)&lt;br /&gt;Pak haji : Jadi bener elo pengin kawin ama anak gue?&lt;br /&gt;Fandi : ya, biasanya sih penjajakan dulu pak haji, pacaran!, pacaran!.&lt;br /&gt;Pak haji : Gak, gak ada pacaran, haram!. Langsung nikah!&lt;br /&gt;Fandi : (nampak kegirangan), oh, I like it. Boleh-boleh, ok!&lt;br /&gt;Pak haji : pacaran nanti kalo udah kawin, aman gak ada fitnah.&lt;br /&gt;Fandi : Oh, that’s right, pak haji. Betul-bentul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penggalan contoh tuturan (8) tampak pak haji menggunakan alih kode, yaitu menggunakan bahasa Arab saat Fandi mengatakan pacaran!, pacaran. Tuturan haram! Adalah kependekan dari tuturan lengkap hada haram (ini haram). Kata hada diganti dengan intonasi yang keras pada kata haram. Dengan demikian, arah alih kode dalam cuplikan contoh di atas adalah dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tuturan sample (1) pun terdapat alih kode dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab&lt;br /&gt;H.R : Anak muda, seminggu lagi datang ke mushola ba’da Ashar!&lt;br /&gt;Fandi : Jam berapa pak?&lt;br /&gt;H.R : Ba’da ashar.&lt;br /&gt;Fandi : Ba’da ashar, ya. Ok, fine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cuplikan tuturan (1) di atas dapat dilihat bahwa alih kode dilakukan Haji Romli pada saat ia menjanjikan ketemu kembali dengan Fandi pada minggu depannya. Namun, pak haji tidak menyebutkan jamnya tapi hanya tempat, yaitu mushola dan ba’da ashar. Kemudian Fandi menanyakan kembali pukul berapa dia harus ketemu di mushola. Pak haji tetap jawab ba’da ashar. Ba’da ashar adalah frasa arab yang artinya setelah sholat ashar. Jadi, arah alih kode di atas adalah dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Alih Kode Bahasa Inggris&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Seperti alih kode dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab juga, banyak digunakan alih kode dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Berikut contoh dari sample (8).&lt;br /&gt;Pak haji : Gak, gak ada pacaran, haram!. Langsung nikah!&lt;br /&gt;Fandi : (nampak kegirangan), oh, I like it. Boleh-boleh, ok!&lt;br /&gt;Pak haji : pacaran nanti kalo udah kawin, aman gak ada fitnah.&lt;br /&gt;Fandi : Oh, that’s right, pak haji. Betul-bentul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari percakapan (8) Si Fandi yang mempunyai latarbelakang cukup lama tinggal di Amerika saat bercakap-cakap dengan Haji Romli sebelumnya menggunakan bahasa Indonesia yang agak formal tiba-tiba pada saat pak haji mengatakan haram!, langsung nikah, Si Fandi mengalihkan kode dari bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. "Oh, I like it" Ok, ‘that’s right’, yang artinya oh, saya setuju itu ya, itu tepat. Dengan demikian, dapat dikatakan arah alih kode dalam cuplikan percakapan di atas adalah dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C ontoh selanjutnya adalah dari sample (7)&lt;br /&gt;Konteks saat Fandi akan merekam si Saprol untuk membaca bacaan sholat.&lt;br /&gt;Fandi : Ok, men?&lt;br /&gt;Saprol : Ok, men.&lt;br /&gt;Fandi : Siap ya, ok. One, two, three go!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari percakapan (7) di atas dapat dilihat bahwa alih kode dilakukan oleh Fandi. Alih kode yang dimaksud adalah dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris, yakni siap ya, ok. One, two, three go! ‘ satu, dua, tiga, mulai!’. Alih kode itu terjadi pada saat Fandi memberi aba-aba Saprol untuk memulai rekamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fungsi Alih Kode&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ditinjau dari sementaranya atau tidak sementaranya alih kode yang terdapat dalam wacana Film Kiamat Sudah Dekat, dapatlah dikatakan bahwa semua alih kode yang ada dalam wacana tersebut adalah bersifat tetap. Hal yang demikian disebabkan kontak bahasa di antara pelakunya bersifat terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitian, didapatkan bahwa ternyata alih kode itu memang memiliki arah tertentu dan peralihan dari satu kode ke kode yang lain itu pasti memiliki maksud. Dengan kata lain, penutur dalam beralih kode pastilah memiliki fungsi. Fungsi-fungsi tersebut akan diuraikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fungsi larangan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam wacana percakapan contoh (8), alih kode yang digunakan oleh Haji Romli dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab saat merespon jawaban Fandi yang ingin berpacaran dahulu sebelum menikahi Si Sarah. Dengan nada tinggi, haji Romli mengatakan ‘haram’!, dengan diikuti ungkapan langsung nikah. Maksud dari alih kode tersebut adalah larangan untuk berpacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dalam pandangan Haji Romli pacaran dilarang dalam agama Islam, sehingga ia langsung berujar ‘langsung nikah’. Artinya setelah dikenalkan dan cocok langsung nikah. Jadi tidak dengan pacaran. Dengan demikian fungsi dari alih kode di atas adalah fungsi pelarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fungsi Ujian&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam wacana tuturan (1), ketika Haji Romli bertemu dengan Fandi di rumahnya, kemudian mereka membuat perjanjian ketemu lagi. Melihat gelagat Fandi adalah pemuda yang tidak tahu agama dan tidak pernah sholat, lalu Haji Romli mengharapkan pada Fandi untuk menemuinya kembali di mushola ba’da ashar. Frasa ba’da ashar ditelinga Fandi agak aneh dan bingung apa yang dimaksud Haji Romli. Kemudian dia kembali bertanya jam berapa? Tetap dijawab ba’da ashar. Di sini ada praanggapan dalam diri Haji Romli bahwa kalau Fandi sholat pasti akan tahu pukul berapa ba’da ashar. Dengan demikian fungsi alih kode dalam percakapan (1) adalah fungsi ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fungsi menyatakan persetujuan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam tuturan (8) ketika Haji Romli melarang Fandi untuk berpacaran dengan anaknya, Si Sarah Haji Romli memberikan solusi langsung nikah. Dengan solusi yang diberikan Haji Romli tersebut Fandi dengan gembira mengatakan oh, I like it. Boleh-boleh, ok!. Alih kode yang diucapkan oleh Fandi berfungsi untuk menyatakan persetujuan pada apa yang dikehendaki Haji Romli. Dengan demikian alih kode dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris berfungsi untuk menyatakan persetujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fungsi aba-aba&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di samping fungsi-fungsi yang telah disebutakan, terdapat fungsi lain, yaitu fungsi memberikan aba-aba. Hal ini dapat dilihat pada sample (7), yaitu pada saat Fandi akan merekam Saprol untuk membaca bacaan sholat. Setelah Si Saprol siap di depan peralatan rekam, kemudian Fandi memberi aba-aba dengan menggunakan bahasa Inggris "One, two, three go! Yang artinya satu, dua, tiga,mulai. Dengan demikian, fungsi dari alih kode ini adalah untuk menyatakan aba-aba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Pemakaian bahasa dalam masyarakat yang berdwibahasa (bilingual) atau multibahasa (multilingual) merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolinguistik. Masyarakat Jakarta (Betawi) adalah masyarakat yang berdwibahasa. Artinya kedwibahasaan atau bermultibahasaan tersebut dapat memunculkan pemakaian bahasa yang bervariasi dalam masyarakat, khusunya alih kode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;* Penulis adalah staf pengajar pada program Pendidikan Bahasa Inggris, dan ketua Kelompok Studi Bahasa dan Budaya (KS2B), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muria Kudus, Kudus, Jawa Tengah.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-5956060478031149925?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/5956060478031149925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=5956060478031149925' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/5956060478031149925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/5956060478031149925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2008/12/nin-2008-april-07-alih-kode-dan.html' title='sosioLINGUSITIK'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6486641810854894926.post-9206364948393121012</id><published>2008-12-06T06:58:00.000-08:00</published><updated>2008-12-06T07:00:46.131-08:00</updated><title type='text'>BAHASA CERMIN BUDAYA</title><content type='html'>&lt;div class="judulsedang" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;"&gt;               Bahasa Cermin Budaya Lokal         &lt;/div&gt;         &lt;div style="height: 10px;"&gt;         &lt;/div&gt;                       &lt;b&gt;Pemerintah Perlu Tetapkan Perda Bahasa Daerah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;WONG &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Jowo kelangan jawane&lt;/i&gt; (orang Jawa kehilangan Jawanya), mungkin ungkapan ini sangat pas, untuk mengungkapkan kondisi masyarakat Jawa saat ini. Karena sebagai orang Jawa, justru tidak banyak menguasai Bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya bahasanya saja yang hilang dari lidah Jawanya. Tapi dialek Jawa asli, juga tidak kentara lagi. Padahal, bahasa merupakan cermin budaya lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adanya orang itu tahu kalau dia orang Jepara, karena ketika berbicara, menggunakan partikel "&lt;i&gt;si&lt;/i&gt;" atau "&lt;i&gt;tah&lt;/i&gt;". Atau orang itu dianggap orang Pati, karena ada partikel khas yaitu "&lt;i&gt;go&lt;/i&gt;" atau "&lt;i&gt;leh&lt;/i&gt;" ketika berbicara," tandas peneliti bahasa pada Universitas Muria Kudus (UMK) Ahdi Riyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partikel-partikel bahasa dan dialek daerah, sebenarnya sangat penting untuk dipertahankan. Karena itu yang sebenarnya, menjadi ciri khas daerah. Tapi selama ini, di sekolah-sekolah yang diajarkan, adalah Bahasa Jawa standar. Yaitu Jawa Solo dan Jogjakarta. Karena Bahasa Jawa-nya orang pantura, dianggap kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Padahal sebenarnya tidak. Memang begitu kenyataannya, dan itulah sebenarnya ciri khas kita," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dialek-dialek dan bahasa-bahasa khas daerah ini tidak hilang, pemerintah perlu menerapkan peraturan daerah (perda) atau semacam aturan, yang melindungi bahasa daerah. Agar ciri khas daerah, tidak hilang dari daerah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi di Kabupaten Kebumen. Di sana, pemerintahnya menerapkan perda, untuk melindungi dialek daerah asli Banyumasan. Bahkan, selain Bahasa Jawa standar (Solo-Jogja), buku tentang bahasa khas Banyumasan juga, diajarkan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemerintah seharusnya, bisa menerapkan dialek bahasa daerah, minimal di SD. Dan SD seharusnya mengajarkan bahasa yang sesuai dialek derahnya, bukan bahasa Jawa standar," ujar Ahdi saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, Bahasa Jawa mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Yaitu berperan sebagai penalaran dan terintegratif dengan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penalaran, karena Bahasa Jawa punya sikap dan gaya berpikir. Ketika lepas dari Bahasa Jawa, katanya, maka naluri Jawanya orang tersebut hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti menggunakan kata sindiran. Orang jawa lebih halus mengungkapkannya. Begitu juga kalau mau berkunjung, orang yang mempunyai naluri Jawa, tidak pernah membuat janji terlebih dahulu. Karena menurut Ahdi, kalau membuat janji, sama halnya minta suguhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Bahasa Jawa bisa terintegrasi dengan masyarakat, karena Bahasa Jawa mempunyai tingkat tutur. Tidak semua orang bisa diperlakukan dengan bahasa yang sama. Jawa &lt;i&gt;ngoko&lt;/i&gt;, digunakan untuk sesama dan &lt;i&gt;krama&lt;/i&gt;, digunakan untuk orang yang lebih dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semakin orang itu mengerti Bahasa Jawa, maka dia semakin tahu, bagaimana menghormati seseorang. Selain pada bahasa, juga tersimbol pada gerakan," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempersilahkan seseorang yang lebih dihormati, orang akan merendahkan pundaknya. Tanpa mengatakan sepatah katapun, orang sudah tahu, kalau itu bentuk penghormatan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6486641810854894926-9206364948393121012?l=ahdiriyono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/feeds/9206364948393121012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6486641810854894926&amp;postID=9206364948393121012' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/9206364948393121012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6486641810854894926/posts/default/9206364948393121012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahdiriyono.blogspot.com/2008/12/bahasa-cermin-budaya.html' title='BAHASA CERMIN BUDAYA'/><author><name>Kajian Linguistik dan Budaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11498133933040116828</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__fuvV67k7yY/Sd78WWZk0iI/AAAAAAAAAAU/SjSQIQ0B4H0/S220/DSCN6231.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
