Saturday, April 8, 2017




 Humor dan Praktiknya di Masyarakat
Ahdi Riyono
Dosen di  Universitas Muria Kudus

Maraknya tanyangan lawakan cerdas dikenal dengan stand up comedy di beberapa stasiun televisi swasta Indonesia akhir-akhir ini seolah telah menjadi gaya hidup masyarakat modern. Lawakan jenis ini mendadak menjadi populer sebab dapat dijadikan alternatif hiburan masyarakat saat  masyarakat jenuh dengan hiruk pikuk berita politik, serta karut marut kebijakan publik pemerintah. Stand up comedy sebetulnya berakar dari budaya Eropa dan Amerika, dan sudah ada sejak abad ke-18.
Secara umum, stand up comedy adalah lawakan atau banyolan yang dilakukan di atas panggung oleh seseorang dengan mempermainkan pemakaian bahasa (language games) berdurasi 10 sampai 45 menit.  Sebetulnya melawak, lelucon, dagelan, guyon maton, sudah sangat lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Dalam beberapa kesenian tradisional, seperti wayang, ketroprak, dan ludruk bisa dipastikan ada adegan dagelannya. Bahkan ceramah agama yang tanpa diselingi humor, audiennya cenderung ngantuk, dan tidak konsen. Jadi, tanpa  humor wacana apapun akan nampak kaku dan kering.
Oleh karenanya,  tak ada seorang pun yang tidak pernah berhumor. Hanya saja perbedaan humor antara orang satu dengan lainnya terletak pada frekuensi dan tujuannya. Ada orang yang berselera humor tinggi dan ada yang rendah.
Berdasarkan sebuah survey dari Lembaga Survey Research Indonesia (SRI) 50 % dari sepuluh mata acara yang paling digemari di Jakarta adalah program humor atau komedi (Yuniawan, 2005). Bahkan Frank Caprio mengatakan humor memiliki perang penting dalam kehidupan kita sampai dia menyamakannnya dengan kebutuhan oksigen bagi paru-paru manusia.
Dengan teknik lawakan, aneka warna gagasan yang lembut sampai yang sangat kasar atau keras dapat tersampaikan dengan elegan dan hampir zonder konflik. Tapi perlu diingat humor dibedakan atas dua jenis berdasarkan konteksnya, yaitu humor, dan tumor (Rohmadi, 2008). Humor adalah sesuatu yang dapat membuat penikmat humor tersenyum, tertawa,  dan senang, sementara tumor adalah humor yang diciptakan dengan kata-kata, sikap yang lucu, baik verbal maupun non verbal yang membuat penikmatnya jadi geram, tersinggung, marah, dan bahkan sakit hati. Tumor terjadi jika humor berlebihan. Sementara itu, Freud membagi humor menurut motivasinya, yaitu humor yang dibuat tanpa motivasi dikenal sebagai Comic sedangkan humor yang sengaja mencapai kesenangan melalui penderitaan orang lain disebut  Joke, misalnya satir, agresi, dan dagelan.
 Di Indonesia terdapat kelompok dagelan atau humor yang sangat terkenal pada zamannnya. Ada Bagito Cs, D’ Bodor, Jayakarta Group, Kwartet Jaya, Warkop DKI, dan Srimulat. Hanya saja kultur komedi cerdas misalnya yang mengadalkan kata-kata cerdas telah dilakukan dan dikenalkan oleh Warkop DKI, dan Bagito Cs. Sedangkan di era mellenium, almarhum Taufik Savalas menghadirkan aksi humoris yang mirip dengan stand up comedy saat ini. Stand up comedy Indonesia sebetulnya telah diawali oleh Iwel. Dia adalah comic pertama yang tampil membawakan stand up comedy di layar kaca dalam acara Bincang Bintang tahun 2005. Di sinilah awal kemunculan stand up comedy. Ironisnya pada waktu itu, sinarnya langsung meredup.
Humor Indonesia tentu berbeda dengan humor ala Amerika. Perbedaan terjadi karena faktor sosio-budaya yang berbeda dan terkait dengan konteks (siapa, kapan, di mana). Oleh karena itu, sebuah humor dapat dimuculkan dalam sebuah budaya tertentu.  Indonesia memiliki hubungan vertikal yang tajam antara orang tua-anak, penguasa-rakyat yang tidak memungkinkan kelakar kritik terbuka agresif. Sedangkan dalam budaya Amerika humor agresif dan terbuka diterima karena yang menjadi target humor sudah terbiasa dan dengan cepat dapat membalas atau mengalihkan sehingga pembuat humor dijadikan target berikutnya. Humor agresif terbuka akan menyakitkan manakala si target humor tidak berhasil melakukan serangan balik.
Dalam budaya kita, masalah seks juga tidak dapat dibicangkan secara terbuka, tetapi cenderung menggunakan humor etis atau agama. Contoh, seorang pendeta protestan seperti biasanya mengadakan kunjungan ke rumah jamaatnya yang baru.  Suatu hari ia mengunjungi rumah jamaatnya yang aktif sekali mengikuti kebaktiannya. Setelah ngobrol ke sana ke mari, Pak Pendeta bertanya, “ sebenarnya apa yang menarik hati Bapak sehingga memeluk agama Kristen?” “Begini Pak Pendeta, “jawabnya dengan polos, “saya dengar, Yesus itu orang Kudus” (Dananjaya, 1988). Pada suatu hari seorang mahasiswa lari terbirit-birit menuju kampus. Kemudian ia ditanya oleh kawan-kawannya kenapa sampai lari terbirit-birit. Ia pun menceritakan bahwa ia tadi akan berkelahi dengan seseorang, namun setelah melihat musuhnya ia langsung lari. Teman-temannya kembali bertanya apakah musuhnya itu berbadan besar. Dan jawabnya, “Anak kecil....tetapi Ambon....”
 Kebangkitan komedi cerdas saat ini membawa angin segar bagi bangsa Indonesia, karena dengannya, bangsa kita tambah cerdas dan kritis. Dalam kaitannya dengan pembelajaran logika berbahasa, humor dapat dijadikan bahan ajar berbahasa di sekolah. Karena berhumor memerlukan pengetahuan berbahasa yang baik, cara memilih diksi, cara menggunakan pertentangan atau plesetan yang dapat menciptakan kelucuan. Contohnya, ‘malioboro, malioboro, wis malio boros wae mas’. ‘ Bali wae neng djokdja’, Djokdja, Djok saja. More tea please. Tjap Jahe.
Jadi, lewat komunikasi jenaka yang berupa banyolan-banyolan itu, distansi (jarak) sosial budaya akan dapat dikontrol, dan akan dapat diatur. Masyarakat kita dikenal dengan ramah tamah, dan sopan santun, karenanya ketidaklangsungannya dalam bertutur, tidak aneh apabila mereka sering berbosa basi, dan berjenaka saat sedang melakukan tutur sapa. Semakin orang piawai dengan menggunakan humor, maka ia akan semakin mudah bergaul dan beradaptasi dengan masyarakat. Apalagi bagi orang Jawa penggunaan sanepa yang berisi kejenakan menjadi dasar penilaian apakah orang dikatakan sopan dan tidak.
Manfaat oarang berhumor juga dikemukakan oleh dunia kedokteran. Para ahli kedokteran dari Universitas maryland, Amerika Serikat, menemukan fakta bahwa humor dapat memperbaiki fungsi pembuluh darah. Dari hasil pengamatannya, mereka yang menonton film komedi  atau humor dapat tertawa lepas, pembuluh darahnya mengembang 22 % lebih cepat dari biasanya. Sebaliknya yang menonton film horor, pembuluh darahnya justru mengembang 35 % lebih lambat. Dengan demikian ternukti bahwa humor memberi pengaruh yang besar bagi kesehatan.



Add caption


Keunikan Bahasa Jawa dan Budaya
di Kabupaten Jepara
Ahdi Riyono
Dosen Linguistik FKIP Universitas Muria Kudus

Membicangkan bahasa Jawa dari berbagai aspek memang tak akan ada habisnya. Karena memang bahasa Jawa selalu menarik untuk dikaji terkait dengan peranan dan fungsi bahasa Jawa di masyarakat. bahasa Jawa dari segi jumlah penutur adalah bahasa daerah yang paling banyak pemakainya.  Jumlah penutur bahasa Jawa berdasarkan sensus tahun 2000 mencapai 84,3 juta, tersebar di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan di daerah-daerah lain di luar Jawa dan Luar negeri yang memiliki kantong-kantong (enklave) penutur bahasa Jawa. Bahasa Jawa juga memiliki berbagai ragam dialek dan variasi. Termasuk yang menarik adalah bahasa Jawa di Kabupaten Jepara.

Sebagaimana penelitian yang dilakukan tim Balai Bahasa Yogyakarta diketuai Suwaji (1978) tentang Struktur Dialek Bahasa Jawa di Pesisir Utara Bagian Timur, bahasa di Kabupaten Jepara digolongkan sebagai Bahasa Jawa Dialek Jepara-Rembang atau Dialek Muria. Namun demikian ada penelitian lain yang mengatakan bahasa Jawa di Kabupaten Jepara adalah hanya variasi dialektal saja belum menjadi sebuah dialek tersendiri karena kesamaan kosakatanya dengan bahasa Jawa Baku mencapai lebih dari 60 %.
Menurut pakar dialektologi, dua bahasa sebagai bahasa berbeda, dialek atau variasi bisa dilihat dari jumlah persentase kesamaan kosakatanya (dialektrometri). Apabila persamaanya hanya mencapai 20 % atau kurang maka itu bisa dikatakan sebagai bahasa yang berbeda, tapi apabila dapat mencapai 40% sampai 60 % disebut dialek dari satu bahasa, dan apabila kesamaannya mencapai 70-90 % itu jelas hanya variasi. Tapi apabila diteliti lebih mendalam bahasa Jawa di Jepara (BJJ) memiliki banyak keunikan dibandingkan dengan bahasa Jawa Baku.
Penyebaran bahasa Jawa di Kabupaten Jepara Merata di seluruh wilayah. Keadaan bahasanya antar di desa satu dengan yang lain tidak terlalu mencolok perbedaanya. Perbedaanya yang muncul hanya pada tataran kosakata tertentu saja. Kosakatanya pun bedanya hanya pada kosakata Ngoko. Sedangkan kosakata Krama hampir semua sama dengan bahasa Jawa Baku.
Kata ‘klapa’ dalam bahasa Jawa Jepara termasuk ragam Ngoko, sedangkan kata ‘klapa’ dalam bahasa Jawa Baku merupakan ragam Krama. Begitu juga, kata ‘krambil’ dalam bahasa Jawa Jepara (BJJ) tergolong ragam Krama, sedangkan dalam BJB adalah Ngoko. Kata jualan di BJJ dikatakan ‘mrema’ yang berkorespondesi dengan BJB ‘sesadean’. Kata perut di BJJ diungkapkan ‘madharan’ di BJB ‘ padharan’. Kata melempar dalam BJJ ‘ngantem’, sedangkan dalam BJB ‘ nyawat’. Kata buruh dalam BJJ dikatakan ‘buroh’, dalam BJBnya dikatakan ‘buruh’. Kata anak ayam di BJJ disebut ‘piyeq’ dalam BJB ‘ kutoq’. Kata sayap di BJJ dituturkan ‘elar’, di BJB disebut’ suwiwi’.  Di dalam BJJ juga dijumpai adanya pemakaian partikel ‘ lah’ dan ‘tah’. Partikel sebetulnya digunakan untuk penguat sebuah tuturan. Contohnya, ‘Pak, barang iku takjupuké lah’ (Pak, barang itu saya akan ambil). ‘Barang ini takpéké lah’ (barang ini akan kumiliki).  ‘iki kepriyé tah thik ngéné? (bagaimana ini dapat begini?).  ‘Apé lunga ring endi tah?’ ( hendak pergi ke mana?).
Dalam BJJ juga terdapat akhiran –na yang berarti melakukan pekerjaan atau tidakan untuk orang lain yang tersebut pada bentuk dasar. Akhiran –na sepadan dengan akhiran –aké. Contoh, aku lagék ngambaraké adhiku sama artinya dengan aku lagék nggambarna adhiku. Dalam bahasa Jawa baku tidak ada pemakaian akhiran -na seperti BJJ. Dalam BJJ juga dikenal awalan tak- dan dak- sebagai pembentuk kata kerja pasif orang pertama tunggal. Sebagai contoh. Dhuwiké célénganku wis takjupuk/ dhuwiké célénganku wisdak jupuk ‘ uang tabunganku sudah kuambil’. Kemudian ada keunikan awalan lainnya, seperti mbok-, kok-, atau tok-, sebagai pembentuk kata kerja pasif orang kedua. Misalnya, asué sapa sing mbok pentung ika/ asué sapa sing kok penthung ika/asué sapa sing tokpenthung ika? ‘anjing siapa yang kau pukul itu?’.
Disamping keunikan bahasanya, masyarakat Jepara juga dikenal dengan budayanya. Kabupaten Jepara memilliki berbagai peninggalan bersejarah. Pada abad VII di wilayah Jepara berdiri sebuah Kerajaan yang dikenal dengan Kerajaan Kalingga. Ratu Kerajaan Kalingga terkenal dengan kebijaksanaan dan keadilannya. Dialah Ratu Shima (Kardjono, 1980; Dirgo Sabarianto dan tim, 1985). Jepara pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, diperintah oleh Pangeran Hadiri dari Mantingan yang beristrikan Ratu Kaliyamat. Pangeran Hadiri tewas ditangan Arya Penangsang Bupati Jipang, dan dimakamkan di Desa Mantingan, sehingga makamnya dikenal dengan ‘Makam Sunan Mantingan’.
Masyarakat Jepara juga memiliki cerita rakyat atau sastra lisan. Cerita lisannya sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut guna menguak hubungan antara cerita rakyat dengan kebudayaan masyarakatnya. Dalam cerita rakyat, terdapat simbol-simbol budaya dan mitologi yang sangat mempengaruhi pola pikir dan sikap masyarakat Jepara dalam menjalankan kehidupannya. Di Desa Kecapi terdapat cerita rakyat “Nyai Ratu Simah”, di Desa Mantingan ada cerita sosok “Sunan Mantingan dan Ratu Kaliyamat”. Juga,  ada cerita tentang sesaji laut atau dikenal dengan pesta Lomban yang saat ini telah menjadi agenda rutin wisata oleh Pemda Kabupaten Jepara. Lalu, di Desa Clering ada cerita “Ronggojoyo dan Haji Lember”, dan “Cerita Curug dan Gegunung” di Desa Troso.

Friday, April 7, 2017

Dilema dan Upaya Pemertahanan Bahasa Jawa



Dilema dan Upaya pemertahanan Bahasa Jawa

Ahdi Riyono
Dosen Universitas Muria Kudus


Bahasa Jawa dipusaran globalisasi saat ini mengalami pergeseran yang kian lama kian terpinggirkan. Terpinggirkannya Bahasa Jawa saat ini adalah salah satu akibat perubahan  sosial politik yang luar biasa di tengah-tengah masyarakat. Di ranah sosial, masyarakat saat ini sudah tidak ada lagi yang bersifat monolingual, tapi cenderung multilingual. Istilah sosiolinguistiknya disebut sebagai masyarakat yang diglosik. Artinya, di tengah-tengah masyarakat hidup berbagai  bahasa dan variasinya yang memiliki peran dan fungsi sosial yang berbeda-beda, sehingga individu yang saling berinteraksi sering menggunakan alih kode ataupun campur kode untuk menyampaikan maksud pesan kepada mitra wicaranya. Akibatnya peranan bahasa Jawa tidak menjadi kode utama dalam berkomunikasi. Namun demikian, kita masih patut bersyukur karena bahasa Jawa masih banyak dipakai di ranah keluarga dan masyarakat walaupun dalam konteks yang terbatas.
Bahasa Jawa sebagai alat berfikir dan komunikasi budaya mayarakat tutur Jawa patut mendapatkan perhatian lebih dari berbagai kalangan karena akhir-akhir ini pola pergeseran bahasa Jawa agak menghawatirkan. Ada kecenderungan keluarga muda etnis Jawa menggunakan bahasa Indonesia lebih dominan ketimbang bahasa ibunya saat mereka berkomunikasi dengan anggota keluarganya. Hal ini lambat laut tentu akan memudarkan kompetensi berbahasa Jawa anak-anak mereka. Anak-anak mulai merasa asing dengan bahasa dan budayanya sendiri. Mereka akan merasa ribet kalau berbicara dengan bahasa Jawa. Bahasa Jawa dianggap tidak praktis lagi digunakan di era informasi saat ini. Padahal dalam Bahasa Jawa terkandung nilai-nilai budaya yang adi luhung, diantaranya adalah nilai sopan santun. Dalam masyarakat Jawa sopan santun harus dilakukan termasuk dalam berbicara. Bagi orang Jawa orang kedua saat dipertimbangkan dalam pemakaian dan pilihan bentuk bahasa. Mereka perlu memperhatikan tingkat tutur (speech levels ). Jika sang anak berbicara dengan orang tua memakai bahasa Indonesia,  mereka akan dicap tidak sopan dan tidak menghargai orang tua.
Perubahan sikap berbahasa ini dalam waktu lama akan menyebabkan banyak kosa kata bahasa Jawa tergantikan dengan kosa kata dari bahasa Indonesia atau bahasa Asing, dan apabila tidak terkendali dapat menjadi lonceng kematian bahasa Jawa sendiri (Bolinger, 1975).  Hilangnnya suatu bahasa, berarti hilangnnya budaya dan peradapan penuturnya. Oleh karena itu, UNESCO mencanangkan Bahasa Ibu diajarkan dan sekaligus sebagai bahasa pendidikan. Bahasa ibu bila diperdayakan akan mampu berperan sebagai bahasa ilmu agama, kebudayaan, dan ipteks. Bahasa Jawa juga memiliki yang sangat penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Masih banyak pesantren-pesantren tradisional  yang dalam mengajarkan agama  masih memakai bahasa Jawa, khususnya dalam belajar membaca kitab kuning (kitab berbahasa Arab ditulis dengan aksara Arab gundul).
Memang tidak bisa dipungkiri globalisasi memarjinalkan bahasa dan sastra daerah. Saat ini lebih dari 100 % mahasiswa program studi bahasa asing lebih mengenal sastra asing daripada sastra daerah (Alwasilah, 2009). Parahnya bahasa dan sastra daerah kurang atau bahkan tidak pernah mendapatkan perhatian apalagi sebagai bahan kajian bagi mahasiswa, guru atau dosen bahasa asing. Bahkan pemerintah daerah pun masih kurang perduli dengan nasib bahasa Jawa. Masih banyak kabupaten di Jawa yang belum memiliki kantor bahasa yang berperan untuk melestarikan bahasa dan budaya Jawa. Padahal dalam undang-undang No.24 Tahun 2009 pasal 42 ayat 1 menyatakan pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Pasal dan ayat ini menyiratkan pemerintah daerah wajib menganggarkan dalam APBDnya dana untuk pengembangan, dan pembinaan bahasa dan sastra daerah sebagai bentuk tanggung jawab dalam rangka ikut mempertahankan bahasa Jawa.
Fishman (dalam Sumarsono, 1993) menjelaskan pemertahanan bahasa terkait dengan perubahan dan stabilitas penggunaan bahasa di satu pihak dengan proses psikologis, sosial, dan kultural di pihak lain dalam masyarakat multibahasa. Ketidakberdayaan bahasa minoritas mengikuti pola yang sama. Awalnya adalah kontak bahasa minoritas dengan bahasa kedua, sehingga mengenal dua bahasa dan menjadi dwibahasawan, kemudian terjadilah persaingan dalam penggunaannya dan akhirnya bahasa asli bergeser atau punah. Kajian ini pernah dilakukan di Australia dan Inggris, juga Kanada (Sumarsono, 1993).
            Untuk melakukan tindakan pemertahanan bahasa, diperlukan sinergi semua yang berkepentingan dan bertanggung jawab, yaitu pemerintah, masyarakat, para ahli dan peneliti bahasa, serta para budayawan. Sinergi ini dapat diwujudkan dalam kegiatan penelitian, pembuatan bahan ajar mulok, dan sosialisasi. SK. Menteri pendidikan No.22/2006 mengizinkan sekolah-sekolah di daerah untuk membuat kurikulum muatan lokal bahasa daerah. Dalam pembuatan bahan ajar bahasa Jawa perlu diperhatikan kebutuhan pengguna atau analisis kebutuhan dan juga analisis situasi. Kebutuhan pengguna antara lain;  bahasa Jawa yang dipakai sehari-hari dan sebagai bahasa kebudayaan. Sedangkan analisis situasi terkait dengan faktor sosial dan politik suatu daerah.
Bahan pembelajaran dapat diambil dari cerita-cerita rakyat yang dapat digunakan untuk mengajarkan unsur kebahasaan dan juga bisa digunakan untuk mengajarkan etika, moral, dan budi pekerti. Yang menjadi kendala dalam pengajaran bahasa Jawa di sekolah saat ini terkait dengan dua aspek, yaitu  materi dan tenaga guru. Dari aspek materi, materi bahasa Jawa tidak dikaitkan dengan dialek dan budaya lokal, materi jarang mengandung ungkapan-ungkapan yang benar-benar dipakai dalam kehidupan sehari-hari daerah tersebut, akibatnya tidak ada sinergi antara pendidikan bahasa di sekolah, dengan kenyataan di masyarakat. Dari aspek tenaga pendidik atau guru, banyak pengajar bahasa Jawa yang bukan keahliannya, banyak guru bahasa Jawa yang dirangkap oleh guru bahasa Indonesia bahkan ada yang dirangkap oleh guru bahasa asing. Jadi, dari kompetensi guru banyak yang tidak memenuhi syarat. Padahal pengajaran bahasa dibutuhkan ketrampilan yang mumpuni baik dalam tataran kebahasaan maupun dalam kesastraan dan kebudayaanya.
Kemudian, dari sosialisasi,  di sekolah juga perlu diadakan hari atau minggu bahasa Jawa, artinya dalam komunikasi informal di sekolah guru dan siswa wajib menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa juga dipakai para guru yang mengajar  siswa yang masih kesulitan dalam memahami bahasa Indonesia, terutama di kelas satu, dua dan tiga di sekolah dasar. Lalu dari sisi keluarga,  mulai gunakanlah bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan anak, istri dan suami. Sebab pemertahanan yang paling efektif adalah di ranah keluarga. Jika banyak keluarga Jawa sudah tidak memakai bahasa Jawa, maka bahasa Jawa akan terancam punah. Tentu kepunahan bahasa Jawa akan menjadi kiamat bagi orang Jawa. Yang terakhir, perlu didirikan Pusat Studi Budaya Jawa di perguruan tinggi daerah, guna menunjang usaha-usaha dokumentasi dalam bentuk penelitian-penelitian dan pesebaran hasil hasil penelitian di masyarakat. kita seharusnya jangan kalah dengan negara lain, antara lain Suriname dan Belanda yang keduanya memiliki Pusat Studi Jawa yang sangat lengkap dan didukung tenaga-tenaga ahli yang memadai.

Menuju Pendidikan Tinggi Transdisipliner



Menuju  Pendidikan Tinggi Transdisipliner
Ahdi Riyono
Dosen FKIP Universitas Muria Kudus

Tulisan Sulistyowati Irianto, Direktur Sekolah Pascasarjana Multidisiplin UI,  di sebuah surat kabar nasional (25/2/2014) lalu tentang perlunya pengembangan studi multidisipliner di perguruan tinggi patut mendapatkan perhatian. Karena apa yang diungkapnya adalah bentuk perhatian sekaligus keprihatiannnya pada dunia pendidikan tinggi di Indonesia yang masih mengagungkan monodisipliner dalam melihat sebuah ilmu. Dunia akademik saat ini masih ditandai dengan cara pandang disiplin ilmu yang saling terpisah.  Bahkan pandangan linieritas kaku yang diterapkan di perguruan tinggi, justru akan memperlemah peran perguruan tinggi sendiri.
 Perkembangan permasalahan yang dihadapi kian komplek  tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan monodisipliner. Misalnya masalah pendidikan, tidak bisa hanya dilihat  aspek pedagogik atau keilmuan pendidikan saja, tetapi harus dilihat dari berbagai aspek, misalnya aspek sosiologi, antropologi, politik, dan kebijakan publik. Oleh sebab itu, pengembangan keilmuan harus melihat permasalahan yang dihadapi. Kita tidak bisa lagi berpikir linier dan cenderung kaku dengan keilmuan tertentu. Sulistyowati bahkan mengusulkan  fakultas monodisiplin perlu mempertimbangkan kurikulum  yang bersifat liberal art  bagi mahasiswa baru. Mereka diperkaya dengan berbagai perspektif ilmu untuk menunjang disiplin ilmu yang akan menjadi spesialisasinya. Sehingga ketika mereka lulus tidak sekadar jadi tukang.
Contohnya, mahasiswa teknik arsitektur dapat mengambil mata kuliah estetika di fakultas ilmu budaya, atau misalnya mahasiswa kedokteran dapat mengambil mata kuliah antropologi di jurusan antropologi. Mahasiswa pendidikan juga dapat mengambil mata kuliah kebijakan publik di Fisip. Hal tersebut  dapat dipahami karena penanganan penyakit dapat juga berkaitan dengan faktor-faktor budaya bukan hanya terkait dengan masalah kesehatan saja, rekayasa arsitektur pun berhubungan dengan estetika (keindahan) dan budaya. Masalah pendidikan juga tidak dapat terlepas dari sebuah  kajian kebijakan publik. 
Karena itu, untuk menyikapi permasalahan global yang semakin  rumit diperlukan pendekatan yang tidak hanya monodisipliner atau multidisipliner sebagaimana yang dikemukakan oleh Sulistiyowati Irianto,  melainkan juga transdisipliner.  Maksudnya  adalah adanya integrasi sejumlah pengetahuan agar penyelesainan masalah dapat tuntas sampai ke akar-akarnya. Jadi, bukan hanya bergabungnya antar disiplin ilmu, tapi dalam prakteknya masih tesekat-sekat sebagaimana dalam konsep multidisipliner atau trandisipliner.
S. Hamid Hasan menegaskan bahwa pendidikan trandisiplin bertujuan untuk kepentingan umat manusia, bukan untuk didiplin ilmu. Disiplin ilmu tidak boleh menjadi pembatas kotak cara berfikir,  bersikap, dan bertindak seseorang, disiplin ilmu harus bersifat terbuka dan kebenaran itu selalu berkembang.  UNESCO juga mengharapkan  perguruan tinggi turut berperan aktif dalam mencari solusi yang terbaik terhadap permasalahan global yang ada saat ini.
Perlu dicari sebuah pendekatan baru yang lebih baik untuk mengatasi permasalahan multisektoral. Pendekatan baru tentu bukan monodisipliner, tetapi transdisipliner. Pendekatan monodisiplin tidak dapat lagi dimanfatkan untuk dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam mengatasi masalah global yang kian ruwet. Pendekatan transdisiplin dapat dipandang sebagai ruang intelektual atau intelektual space, tempat isu-isu yang dibahas saling dikaitkan, dieksplorasi, dieksplanasi dan dibuka untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.
Semua pengetahuan dan ketrampilan di masa depan merupakan hasil riset dengan warna transdisipliner. Karena produksi ilmu pengetahuan adalah proses sosial yang mengalami diseminasi secara global, maupun lokal, melalui berbagai bentuk dan tempat, maka di masa yang akan datang akan terjadi rekonfigurasi ilmu pengetahuan. Karenanya, dalam menghadapi aneka kompleksitas masalahnya tidak cukup civitas akademika hanya disiapkan dengan monodisiplin saja berdasarkan kognisinya, namun juga dibutuhkan orientasi trandisipliner melalui interprenetrasi rasio, emosi, intuisi, dan cipta talenta.
 Ini bukan berarti monodisiplin tidak perlu diperdalam secara intensif, melainkan kedalaman intensivitas maupun intensivitas ilmu mencari berbagai fungsi keterkaitannya dengan berbagai dimensi kehidupan, sehingga terwujud ilmu pengetahuan yang saling terobos menerobos. Diana Nomida (2008) mengatakan ada empat isu utama yang membutuhkan pendekatan multisektoral atau trandisiplin, antara lain; agresi manusia, distribusi sumberdaya secara harmonis, perkembangan pandangan dunia yang bersifat antroposentris, realisasi potensi dan pemberdayaan manusia melalui pendidikan. Untuk pengembangan pendidikan berbasis trandisipliner,  Perguruan Tinggi perlu menyusun sebuah kurikulum dan pembelajaran yang terintegrasi atau disebut integrated curriculum and learning, dan juga memberikan ruang (space) antar disiplin agar ada kemungkinan munculnya perspektif baru di luar disiplin tersebut.